KUDUS, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mulai menyiapkan infrastruktur pendukung untuk operasional angkutan umum Trans Jateng rute Jekuti (Jepara-Kudus-Pati) yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Sebagai tahap awal, dua terminal disiapkan menjadi titik layanan transportasi yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Kudus, Sulistiyowati, mengatakan Terminal Getaspejaten dan Terminal Mijen menjadi lokasi yang diproyeksikan sebagai titik operasional Trans Jekuti di wilayah Kudus.
“Menindaklanjuti rencana tersebut, kami sudah mengundang lima camat di Kudus, untuk berdiskusi langsung dengan perwakilan Bappeda dan Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah,” katanya, Rabu, 15 Juli 2026.
Menurut Sulistiyowati, penyiapan dua terminal tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman antara Gubernur Jawa Tengah bersama kepala daerah di Jepara, Kudus, dan Pati.
Dalam kerja sama itu, masing-masing pemerintah daerah diminta menyediakan infrastruktur pendukung berupa terminal atau halte sebagai titik transit layanan Trans Jekuti.
“Dalam identifikasi dan perencanaan sementara kami, ada dua titik yang bisa difungsikan ganda, yaitu Terminal Getaspejaten dan Terminal Mijen,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi Terminal Mijen dinilai telah memadai karena selama ini melayani angkutan pedesaan. Dengan demikian, penyesuaian yang diperlukan hanya berupa penyediaan fasilitas naik dan turun penumpang.
Sementara itu, Terminal Getaspejaten memerlukan penataan yang lebih menyeluruh. Pemerintah Kabupaten Kudus berencana mengalokasikan anggaran penataan terminal tersebut melalui Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027 dengan nilai di bawah Rp200 juta.
“Penataan ini akan kami sinkronkan dengan Dishub Provinsi agar desainnya pas dan tidak bongkar pasang di kemudian hari,” tambahnya.
Untuk operasional layanan, konsep awal dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkirakan kebutuhan sebanyak 14 unit bus pada koridor Trans Jekuti. Namun jumlah armada tersebut masih akan disesuaikan berdasarkan hasil kajian dan kemampuan anggaran.
Di sisi lain, Pemkab Kudus juga membuka peluang keterlibatan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) guna membantu penyediaan halte atau fasilitas pendukung di sejumlah titik.
“Kudus ini memiliki banyak perusahaan besar. Kami akan coba kolaborasikan, misalnya koridor atau area mana yang bisa dihandle oleh CSR perusahaan. Sementara untuk penataan terminalnya tetap dibiayai oleh Pemkab,” jelasnya.
Terkait rute layanan, Sulistiyowati mengatakan hingga kini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih menyusun kajian kelayakan sehingga jalur operasional belum ditetapkan secara final.
Berdasarkan konsep awal, bus Trans Jekuti diperkirakan akan melayani jalur dari arah Semarang dan Demak, kemudian terbagi menuju Jepara dan Pati.
Terminal Jetak juga diproyeksikan menjadi salah satu titik transit penting untuk mendukung konektivitas antardaerah sekaligus mengurangi kepadatan arus angkutan dari arah Grobogan.
“Ada opsi rute yang lewat jalur lingkar, ada juga yang masuk jalur kota. Untuk jalur Jepara, opsinya bisa lewat kota ke arah barat atau melalui rute Terminal Jetak lalu memotong lewat jalur lingkar. Semua keputusannya nanti menunggu hasil kajian dari tim provinsi,” pungkasnya.
Jurnalis: Nisa Hafizhotus S.
Editor: Rosyid











