JEPARA, Harianmuria.com – Pagelaran budaya Baratan Ratu Kalinyamat tetap ramai pengunjung meski hujan mengguyur di wilayah Kecamayan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara pada Minggu, 1 Februari 2026 malam.
Pagelaran Baratan tahun ini mengusung tema keteladanan Sang Ratu Kalinyamat, dengan menampilkan sosok pemimpin perempuan Jepara yang dikenal religius, tangguh, dan berani melawan penjajahan.
Alur cerita difokuskan pada fase penting kehidupan Ratu Kalinyamat, yakni sumpah pengasingan diri atau Topo Wudo yang dijalaninya setelah wafatnya sang suami, Sultan Hadlirin.
Ketua Panitia Pagelaran Baratan, Asyari Muhamad, menjelaskan bahwa pertunjukan tersebut melibatkan pelajar SMA dan SMK se-Kecamatan Kalinyamat. Para pelajar terlibat langsung sebagai pemeran dalam adegan-adegan dramatik yang menggambarkan perjalanan batin dan kepemimpinan Ratu Kalinyamat.
“Kurang lebih ada 120 peserta dari SMA dan SMK se-Kalinyamat yang terlibat dalam pagelaran ini,” kata Asyari.
Kenalkan Sejarah ke Gen Z, Museum Pop-Up Ratu Kalinyamat Dibuka di Masjid Mantingan Jepara
Menurutnya, Topo Wudo menjadi simbol proses pendewasaan spiritual Ratu Kalinyamat. Pengasingan diri tersebut dimaknai sebagai bentuk pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang kemudian membentuk karakter kepemimpinan sang ratu menjadi lebih kuat secara batin dan visi.
“Kisah yang diangkat adalah saat Ratu Kalinyamat mengasingkan diri untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa,” ujarnya.
Setelah melalui fase tersebut, Ratu Kalinyamat digambarkan sebagai pemimpin yang adil, bijaksana, dan berani. Ia dikenal sebagai Ratu Adil, sosok yang dihormati rakyat dan disegani lawan. Nilai-nilai kepemimpinan itu divisualisasikan melalui adegan kepemimpinan Ratu Kalinyamat saat memimpin ekspedisi melawan penjajah Portugis.
Keberanian Ratu Kalinyamat bahkan tercatat dalam sejarah Portugis. Ia dijuluki “Rainha de Japara, senhora poderosa e rica” (Ratu Jepara, wanita yang berkuasa dan kaya) serta “De Kranige Dame” atau perempuan pemberani. Meski ekspedisi tersebut berakhir dengan kekalahan, semangat juang Ratu Kalinyamat dinilai tetap hidup dan relevan hingga kini.
Asyari menambahkan, tema keteladanan sengaja dipilih karena Ratu Kalinyamat telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
“Tema Keteladanan Sang Ratu Kalinyamat kami angkat karena beliau telah menjadi Pahlawan Nasional, sehingga nilai kepahlawanan dan keteladanannya sangat relevan disampaikan pada malam Nisfu Sya’ban tahun ini,” jelasnya.
Ia berharap, melalui pagelaran Baratan, generasi muda dapat meneladani keteguhan, keberanian, dan kegigihan Ratu Kalinyamat dalam menghadapi cobaan hidup serta tantangan zaman. Sosok Ratu Kalinyamat pun diharapkan terus dikenang bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi juga simbol keteladanan bagi lintas generasi.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Ulfa











