GROBOGAN, Harianmuria.com – Bencana kekeringan yang melanda Kabupaten Grobogan meluas hingga menjangkau 108 desa di seluruh kecamatan. Memasuki puncak musim kemarau gelombang kedua pada Agustus-September 2026, warga di wilayah terdampak mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Kondisi tersebut paling dirasakan warga dari keluarga kurang mampu yang tidak memiliki sumber air memadai. Mereka terpaksa mengandalkan bantuan distribusi air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.
Sementara warga yang tidak memperoleh bantuan harus mencari sumber air ke luar desa. Sebagian lainnya memilih membeli air dari pedagang dengan harga sekitar Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per tangki.
Air yang dibeli biasanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga selama satu hingga dua minggu. Kondisi itu membuat pengeluaran warga bertambah di tengah keterbatasan akses air bersih.
Hartoyo, warga Desa Rejosari, mengatakan warga harus mencari sumber air ke berbagai lokasi ketika bantuan belum datang.
“Cari kemana-mana sampai sawah sebelah, itu pun jauh,” katanya, Rabu, 23 September 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, mengatakan kekeringan telah berlangsung sejak Mei 2026. Hingga menjelang akhir September, BPBD telah menyalurkan ratusan tangki air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.
“Sejak Mei sampai menjelang akhir September ini, sudah didistribusikan 617 tangki air atau setara sekitar 3,1 juta liter air bersih ke wilayah terdampak,” katanya.
Distribusi air dilakukan menggunakan armada internal BPBD serta dua unit mobil tangki yang beroperasi setiap hari. Penanganan kekeringan juga mendapat dukungan dari berbagai pihak melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun lembaga sosial.
Sejumlah pihak yang turut membantu distribusi air antara lain PMII, Baznas, Podo Rukun, Jasa Tirta, serta elemen masyarakat lainnya.
Wahyu memastikan penyaluran air bersih akan terus dilakukan selama warga masih membutuhkan. Pasalnya, kondisi kekeringan diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober 2026.
BPBD juga mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih dan memanfaatkan sumber air alternatif yang masih tersedia di sekitar tempat tinggal.
Berdasarkan prakiraan cuaca, kondisi kemarau diperkirakan mulai berakhir dan beralih memasuki awal musim hujan pada November 2026.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Rosyid











