BLORA, Harianmuria.com – Serangan hama tikus membuat petani di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, nyaris gagal panen. Dari enam kilogram benih padi yang ditanam, hasil panen yang didapat bahkan tidak sampai 10 sak gabah.
Kondisi tersebut dialami Sugi, Ketua Kelompok Tani Jaya Makmur, Desa Ngumbul, Kecamatan Todanan. Pada musim tanam kedua (MT2) lalu, ia mengaku tanaman padinya habis diserang tikus sejak tahap pembibitan.
“Baru tebar benih saja sudah dimakan tikus,” ujar Sugi, Rabu, 30 September 2026.
Dikatakan, serangan tidak berhenti setelah benih tumbuh dan dipindahkan ke lahan pertanian. Tanaman padi yang baru ditanam kembali menjadi sasaran tikus.
Kondisi tersebut memaksa Sugi harus berulang kali melakukan penyulaman. Namun upaya tersebut tidak mampu menyelamatkan tanamannya.
Memasuki usia hampir dua bulan, saat tanaman padi mulai tumbuh hijau dan rapat, serangan tikus justru semakin parah. Batang-batang padi dicacah hingga terpotong.
Padahal, dengan enam kilogram benih, Sugi biasanya bisa memperoleh lebih dari 100 sak gabah dalam kondisi normal.
Ia menerangkan jika dihitung berdasarkan produktivitas sekitar 23 sak per kilogram benih, hasil panennya bahkan bisa mencapai 138 sak. Satu sak gabah di wilayah tersebut umumnya berisi sekitar 50 kilogram atau lebih.
Namun, serangan tikus membuat hasil panen itu tinggal angan-angan. Dari seluruh benih yang ditebar, Sugi hanya mendapatkan kurang dari 10 sak gabah.
“Kalau kemarin itu nyaris gagal total. Sepuluh sak saja enggak dapat. Dari tebar benih enam kilo, padahal kalau normal dapat 100 sak lebih,” ungkapnya.
Menurut Sugi, serangan tikus kali ini jauh lebih parah dibandingkan musim-musim sebelumnya. Populasinya meningkat drastis, dengan ukuran tubuh relatif kecil, tetapi jumlahnya sangat banyak dan agresif.
Ia bahkan pernah mencoba berjaga pada malam hari untuk menghalau hama tersebut. Namun, tikus-tikus itu tak lagi mudah takut meski disorot menggunakan senter.
“Tikusnya itu kecil, tapi lebih ganas. Populasinya luar biasa banyak. Disinari senter saja enggak takut, malah kelihatannya mau menyerang kita,” tuturnya.
Serangan hama tersebut membuat Sugi kini memilih berhenti menanam di sejumlah lahan. Ia sempat mencoba beralih menanam jagung. Namun tanaman jagung miliknya kembali diserang tikus sejak awal.
“Misalnya pagi ini nanam, besok pagi dilihat sudah enggak ada jagungnya,” ujarnya.
Akibatnya, sebagian lahan pertanian kini dibiarkan kosong. Sugi mengaku belum berani kembali menanam karena khawatir mengalami kerugian serupa.
“Untuk sementara saya biarkan dulu lahannya kosong,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Sekar











