BLORA, Harianmuria.com – Kabupaten Blora mendapat tambahan alokasi pupuk bersubsidi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjelang musim tanam (MT) 1 tahun 2026-2027.
Tambahan tersebut diberikan untuk dua jenis pupuk, yakni NPK dan pupuk organik. Total tambahan alokasi mencapai 3.000 ton.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora, Sofyan Rifa’i, mengatakan tambahan alokasi tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan petani saat memasuki musim tanam.
“Alhamdulillah di MT 1 nanti di tahun 2026-2027 ini, Kabupaten mendapatkan alokasi tambahan dari provinsi, pupuk organik dan pupuk NPK,” kata Sofyan, Senin, 21 September 2026.
Untuk pupuk NPK, alokasi Blora bertambah 1.250 ton. Sebelumnya, daerah tersebut mendapat alokasi sebanyak 58.500 ton, kemudian meningkat menjadi 59.750 ton.
Adapun pupuk organik memperoleh tambahan 1.750 ton. Alokasi yang semula 6.500 ton naik menjadi 8.250 ton.
Dengan penambahan tersebut, total alokasi pupuk NPK dan organik di Kabupaten Blora mencapai 68.000 ton.
Sofyan menjelaskan, tambahan alokasi kali ini hanya mencakup pupuk NPK dan organik. Sementara untuk pupuk Urea, ketersediaannya disebut masih mencukupi kebutuhan petani pada awal MT 1.
Ia memastikan kebutuhan pupuk Urea tetap dapat dipenuhi meskipun penebusan dilakukan secara serentak oleh petani di berbagai wilayah Blora.
“Meskipun kebutuhan serentak di wilayah Blora, dipastikan nanti akan tercukupi,” ujarnya.
Sofyan mengatakan bahwa di tengah kesiapan pupuk subsidi, waktu pelaksanaan MT 1 di Blora berpotensi mengalami kemunduran. Kondisi tersebut dipengaruhi belum meratanya hujan hingga September 2026.
Minimnya hujan membuat petani belum dapat memulai proses persemaian padi. Padahal, pada periode tersebut sebagian petani biasanya sudah mulai mempersiapkan lahan dan benih untuk memasuki musim tanam.
“Ini mumpung kemarau belum ada tanaman MT 1, nanti kemungkinan juga mundur,” ujarnya.
Menurut Sofyan, apabila hujan turun pada September, petani seharusnya sudah dapat memulai tahapan persemaian, baik menggunakan metode persemaian kering maupun basah.
“Mestinya kalau September ini kan sudah persiapan, sudah mulai persemaian kering ataupun persemaian basah kalau ada hujan. Kalau belum ada hujan ya berarti belum nyemai,” jelas Sofyan.
Meski awal musim tanam diperkirakan mundur, DP4 Blora memastikan persediaan pupuk subsidi telah berada di tingkat penyalur.
Pupuk tersebut disebut sudah siap ditebus kelompok tani ketika musim tanam dimulai. Kondisi itu dinilai penting untuk mengantisipasi kebutuhan pupuk apabila penebusan dilakukan secara bersamaan.
“Nanti insyaallah kalau penebusan bareng-bareng pun insyaallah cukup ini untuk pupuk yang tersedia. Jadi posisinya ini sudah di PPTS (penyalur pupuk), sudah siap,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid











