BLORA, Harianmuria.com – Rencana perbaikan ruas Jalan Balong–Kepoh di Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, melalui program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD) dipastikan belum dapat dilakukan. Pasalnya, kondisi dan status ruas jalan tersebut tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat.
Ruas jalan sepanjang sekitar 12 kilometer tersebut diketahui mengalami kerusakan parah. Dari total panjang jalan, hanya sekitar 1,5 kilometer yang masih dalam kondisi baik, sementara sisanya sekitar 10,5 kilometer rusak dan kerap dikeluhkan warga karena sering memicu kecelakaan.
Kondisi jalan tersebut sempat menjadi perhatian salah satu anggota Komisi V DPRI RI yang mendorong adanya usulan agar perbaikan dapat dibiayai melalui program IJD. Namun, usulan tersebut terkendala persyaratan teknis yang ditetapkan pemerintah pusat.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Blora, Nidzamudin Al Hudda, menegaskan bahwa tidak semua ruas jalan daerah bisa diajukan dalam program IJD. Salah satu syarat utama adalah ruas jalan harus masuk dalam koridor yang telah ditentukan.
“Harus masuk koridor,” kata Hudda, Rabu, 24 Juni 2026.
Karena tidak memenuhi ketentuan tersebut, Jalan Balong–Kepoh tidak dapat dimasukkan dalam skema IJD yang diusulkan Pemerintah Kabupaten Blora.
Sebagai gantinya, DPUPR Blora akan mengajukan pendanaan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).
“Kami usulkan DAK,” kata Hudda.
Hudda menjelaskan, pengajuan DAK tersebut akan dilakukan pada tahun ini. Apabila disetujui pemerintah pusat, maka realisasi perbaikan baru dapat dilaksanakan pada 2027 mendatang.
Sementara itu, Kepala Desa Kepoh, Yulianto, menyebut status Jalan Balong–Kepoh merupakan jalan kabupaten sehingga kewenangan perbaikannya berada pada pemerintah daerah.
“Begitulah kondisinya, kami sendiri tidak bisa berbuat banyak,” katanya.
Keluhan juga disampaikan warga setempat. Salah satunya Mbah Jo, warga Desa Kepoh, yang mengatakan kondisi jalan rusak kerap menyebabkan pengendara terjatuh, terutama bagi mereka yang tidak mengenal medan.
“Mereka yang bukan orang sini tidak kenal medan, jadi banyak yang jatuh,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi jalan semakin berbahaya pada malam hari karena minimnya penerangan di sepanjang ruas tersebut. Hal itu membuat aktivitas warga, termasuk perjalanan darurat, menjadi lebih sulit.
“Kasihan itu kalau malam-malam ada yang sakit harus ke rumah sakit, sudah gelap, jalan rusak. Orang di sini banyak yang mengeluh,” tuturnya.
Warga berharap pemerintah tetap memberikan perhatian terhadap kondisi ruas jalan tersebut, minimal dengan perbaikan sementara seperti perataan atau pengerasan agar lebih aman dilalui pengguna jalan.
“Minimal rata tidak jeglong-jeglong, meski bukan aspal ataupun cor,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid











