BLORA, Harianmuria.com – Luas areal tanam singkong di Kabupaten Blora mengalami penurunan drastis dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora, pada 2025 luas tanam singkong hanya tersisa 72 hektare.
Penurunan tersebut terjadi secara bertahap sejak 2021. Saat itu luas areal tanam singkong di Blora tercatat mencapai 809 hektare. Angka tersebut sempat meningkat menjadi 837 hektare pada 2022, sebelum akhirnya anjlok menjadi 483 hektare pada 2023.
Tren penurunan berlanjut pada 2024 dengan luas tanam tersisa 345 hektare. Sementara pada 2025, areal tanam singkong menyusut tajam hingga tinggal 72 hektare.
Data DP4 Blora juga menunjukkan semakin banyak kecamatan yang meninggalkan budidaya singkong. Pada 2021 tercatat hanya enam kecamatan yang tidak memiliki areal tanam singkong.
Pada 2022, Kecamatan Tunjungan sempat mulai menanam singkong seluas 10 hektare. Namun pada tahun berikutnya hingga 2025, wilayah tersebut kembali tidak memiliki areal tanam singkong.
Penurunan signifikan terjadi di sejumlah kecamatan seperti Kecamatan Todanan, Kecamatan Ngawen, Kecamatan Japah, Kecamatan Jiken, Kecamatan Sambong, dan Kecamatan Randublatung.
Bahkan di Kecamatan Japah, luas areal tanam singkong yang pada 2021 mencapai 350 hektare dan meningkat menjadi 500 hektare pada 2022, kini sudah tidak lagi ditemukan tanaman singkong.
Kepala DP4 Blora, Ngaliman, menyebut penurunan areal tanam singkong didominasi oleh peralihan komoditas ke padi dan jagung.
Lebih lanjut, ia menjelaskan curah hujan tinggi sepanjang 2025 turut memengaruhi perubahan pola tanam petani di sejumlah wilayah.
“Sehingga lahan yang tadinya ditanami ketela pohon berganti ditanami padi dan jagung sehingga ada penurunan di tahun 2025,” katanya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid











