KENDAL, Harianmuria.com – Warga Desa Parakan, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal menggencarkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) mandiri selama tiga tahun hingga berhasil menekan penyebaran kasus demam berdarah dengue (DBD).
Program PSN mandiri itu merupakan kolaborasi Puskesmas Rowosari II dan TP PKK Desa Parakan setelah kejadian kasus DBD di RT 3 RW 1 desa setempat.
Ketua TP PKK Desa Parakan, Nur Fadhilah, menyampaikan bahwa kegiatan PSN mandiri tersebut telah berjalan selama tiga tahun dan manfaatnya mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.
Fadhilah menjelaskan bahwa setelah kejadian DBD di RT 3 RW 1 Desa Parakan, pihak desa bersama Puskesmas Rowosari II melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) dan menemukan banyak jentik nyamuk di lingkungan warga.
“Dari kejadian tersebut, kami berinisiatif melaksanakan PSN secara door to door ke rumah-rumah warga. Kemudian kegiatan ini kami jadikan agenda rutin TP PKK setiap satu bulan sekali,” terangnya, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Menurutnya, program PSN sejalan dengan program prioritas TP PKK dalam pemanfaatan pekarangan dan menjaga kebersihan lingkungan. Karena itu, pelaksanaannya dilakukan secara mandiri dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
“Alhamdulillah, ini sudah memasuki tahun ketiga. Warga juga menyambut dengan antusias. Manfaatnya benar-benar bisa dirasakan, dan sampai saat ini Desa Parakan sudah nol kasus DBD,” pungkasnya.
Dinkes Kota Pekalongan Optimalkan Pencegahan DBD Melalui PSN dan Fogging Fokus
Pada Sabtu, 17 Oktober 2026 tim Puskesmas Rowosari II kembali melakukan pemeriksaan jentik nyamuk sekaligus memberikan edukasi kepada warga.
Epidemiolog Kesehatan sekaligus petugas Surveilans Vektor Puskesmas Rowosari II, Widya Dwi Kinahyu, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program monitoring PSN melalui pendampingan masyarakat.
“Kami memiliki program monitoring PSN dalam bentuk pendampingan. Kebetulan TP PKK Desa Parakan juga mempunyai program unggulan, sehingga kami berkolaborasi. Jadwal pelaksanaan ditentukan masyarakat dan setiap bulan kami rutin melakukan monitoring dengan sasaran RT secara bergantian,” jelasnya.
Menurut Widya, setelah pemeriksaan dari rumah ke rumah selesai, petugas mengumpulkan masyarakat untuk menyampaikan hasil pemeriksaan sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk.
Data hasil pemeriksaan selanjutnya diolah untuk mengetahui Angka Bebas Jentik (ABJ) sebagai salah satu indikator keberhasilan PSN.
“Standar minimal ABJ adalah 95 persen. Jika angkanya di atas 95 persen, risiko penularan lebih rendah. Sebaliknya, jika di bawah 95 persen, risiko penularan DBD lebih tinggi,” terangnya.
Pemeriksaan dilakukan di 22 rumah warga menjadi sasaran. Hasilnya, seluruh rumah dinyatakan bersih dan petugas tidak menemukan jentik nyamuk, sehingga capaian pemeriksaan hari itu mencapai 100 persen.
Ia menegaskan, PSN menjadi langkah strategis dalam pengendalian DBD karena menitikberatkan pada pencegahan melalui pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk, bukan hanya mengandalkan fogging atau pengasapan.
“Melalui PSN, kepadatan nyamuk bisa ditekan sehingga risiko penularan dan jumlah kasus DBD juga dapat menurun. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kesadaran masyarakat untuk rutin membersihkan tempat penampungan air dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Ia berharap pola kolaborasi yang telah berjalan di Desa Parakan dapat diterapkan di desa-desa lain dalam wilayah kerja Puskesmas Rowosari II, sehingga upaya pencegahan DBD semakin optimal.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa










