GROBOGAN, Harianmuria.com – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Grobogan, selama lebih dari lima bulan membuat warga Desa Tanggungharjo kesulitan mendapatkan air bersih, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Berharap hujan segera turun, ratusan warga menggelar shalat Istisqa dengan turut membawa hewan peliharaan dan ternak ke lokasi pelaksanaan shalat.
Hewan yang dibawa warga beragam, mulai dari unggas, burung peliharaan hingga kambing. Kehadiran hewan-hewan tersebut bukan tanpa alasan. Selain mengikuti kesunahan dalam pelaksanaan shalat Istisqa, warga ingin menunjukkan bahwa kebutuhan air tidak hanya penting bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh makhluk hidup.
Kemarau yang berlangsung sejak Mei hingga awal Oktober 2026 itu pun membuat warga pun terpaksa mengandalkan bantuan air dari berbagai pihak.
Saefudin Zuhri, salah seorang warga Desa Tanggungharjo, mengatakan kondisi sumber air di wilayahnya terus menyusut drastis. Bahkan, sejumlah hewan ternak miliknya mulai mengalami kondisi kritis akibat keterbatasan air.
“Shalat Istisqa minta hujan, kambing ini untuk kesunahan, kesempurnaan shalat. Ini tadi bawa kambing tiga, di rumah masih tujuh. Ini sudah kritis, sumber air sudah sangat berkurang drastis,” kata Saefudin.
Ia menuturkan selama sekitar lima bulan terakhir pasokan air terkadang dibantu oleh kepolisian sektor setempat maupun pemerintah desa.
“Untuk kebutuhan air kadang ada yang membantu, kadang dari polsek, kadang dari desa. Kebanyakan mengandalkan bantuan,” ujarnya.
Selain kesulitan air bersih, kemarau panjang juga berdampak pada sektor pertanian. Lahan pertanian warga terpaksa dibiarkan terbengkalai karena kondisi tanah yang kering dan cuaca panas ekstrem.
Imam shalat Istisqa sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Bustanul Arifin, Gus Millah Azka, menjelaskan pelaksanaan shalat Istisqa dilakukan sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon pertolongan Allah SWT agar segera menurunkan hujan.
“Kekeringan sudah hampir lima bulan atau lima bulan lebih, tidak ada hujan sama sekali. Jadi, dari pondok pesantren mengadakan shalat Istisqa, minta kepada Allah semoga segera hujan, karena masyarakat sudah sangat-sangat kekurangan air,” jelas Gus Millah Azka.
Ia menambahkan, hewan-hewan yang dibawa warga menjadi simbol bahwa dampak kekeringan dirasakan bukan hanya oleh manusia.
“Shalat Istisqa itu memang sunah untuk hewan-hewan itu dibawa, dikumpulkan bersama-sama meminta kepada Allah, sebagai simbol bahwa yang butuh air itu tidak hanya manusia. Semua makhluk hidup itu butuh air,” katanya.
Gus Millah Azka menyatakan, shalat Istisqa akan kembali dilaksanakan apabila hujan belum turun. Warga berencana menggelar shalat serupa setiap tiga hari sekali hingga hujan turun.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Sekar











