PATİ, Harianmuria.com – Sumber air bersih semakin menipis pada puncak kemarau bulan September 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mecatat 18 desa mengalami krisis air bersih.
Krisis air bersih tersebar di delapan kecamatan, meliputi Desa Cengkalsewu, Kecamatan Sukolilo; Dwsa Srikaton, Kecamatan Kayen; Desa Tambakromo dan Tambahagung, Kecamatan Tambakromo; Desa Sumbermulyo, Kecamatan Winong; Desa Kletek dan Tanjungsekar, Kecamatan Pucakwangi.
Kemudian, Desa Ronggo dan Sidomukti, Kecamatan Jaken, Desa Ronggo dan Sidomukti, Kecamatan Pati; Desa Tondokerto, Tlogorejo, Tambahmulyo, Plosojenar, dan Karangrejolor di Kecamatan Jakenan.
Kepala pelaksana harian BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, mengatakan BPBD terus memantau wilayah terdampak dan rawan kekeringan.
“Sudah ada 24 tangki kapasitas 5000 liter kita distribusi mencakup desa-desa di wilayah Pucakwangi, Jakenan, Tambakromo, Gabus,” ungkapnya, baru-baru ini.
Pati Siaga Kekeringan dan Karhutla hingga Oktober 2026, 45 Ha Sawah Sudah Terdampak
Martinus menyampaikan bahwa kondisi kekeringan masih berpotensi meluas apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. Karena itu, masyarakat diminta melapor apabila wilayahnya mulai mengalami kesulitan air bersih.
Untuk saat ini, BPBD memprioritaskan distribusi air bersih ke wilayah yang sumber airnya sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Ketika September-Oktober, semakin banyak desa-desa yang dilanda kekeringan, termasuk persawahan. Kita rencanakan setiap hari 10-12 tangki akan kita operasikan membantu masyarakat yang membutuhkan air bersih,” jelasnya.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network











