SEMARANG, Harianmuria.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare di wilayah setempat mengalami lonjakan selama kemarau panjang yang melanda sejumlah kabupaten/kota.
Kepala Dinkes Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, mengatakan peningkatan kasus ISPA dan diare lebih banyak terlihat di wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi. Kasus serupa juga ditemukan di sejumlah daerah dengan kondisi tanah yang cenderung kering.
“Kemarau ini paling tinggi (penyakitnya) karena ISPA dan diare. Terutama di area perkotaan yang padat atau kabupaten kota yang punya hutan dan area keringnya lebih banyak. Salah satunya di Brebes,” kata Zulfachmi saat ditemui di kantornya, Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurutnya, paparan debu dan udara panas selama kemarau juga berpotensi memicu gangguan pernapasan seperti flu, bronkitis, dan asma. Dinkes Jateng mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena kemarau diperkirakan berlangsung hingga Desember 2026.
“Karena memang pengaruh cuaca kering, debu dan kalau ada asapnya juga. Sekarang ini dari data ada peningkatan untuk diare dan tipes. Kemudian demam berdarah juga pasti meningkat mengingat ada siklus peralihan kemarau menuju hujan yang membuat jentik nyamuk berkembangbiak,” katanya.
Zulfachmi menambahkan, aktivitas masyarakat di luar rumah yang meningkat saat cuaca terik juga dapat memperbesar risiko gangguan kesehatan. Selain penyakit saluran pernapasan, paparan panas berlebih dapat menyebabkan gangguan kulit hingga heat stroke.
“Itu bisa memunculkan sejumlah penyakit. Khususnya infeksi kulit yang terpapar udara panas. Namun untuk heatstroke kami belum mitigasi, datanya masih ada di klinik dan puskesmas,” tuturnya.
Untuk mengurangi risiko dehidrasi dan dampak paparan panas, ia mengimbau masyarakat untuk memperbanyak konsumsi air putih. Menurutnya, asupan cairan yang cukup diperlukan untuk membantu menjaga kondisi tubuh selama menghadapi kemarau panjang.
Jurnalis: Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Rosyid











