GROBOGAN, Harianmuria.com – Pertanian di wilayah Desa Asemrudung, Kecamatan Geyer, mulai terdampak kekeringan ekstrem tahun ini. Sebagian tanaman jagung petani bahkan terancam gagal panen.
Ketua Gapoktan Sedio Mukti Desa Asemrudung, Mulyono, mengatakan kondisi kekeringan tahun ini menjadi salah satu yang paling berat bagi petani. Minimnya pasokan air membuat tanaman jagung tidak dapat tumbuh secara maksimal.
“Karena kemarin sangat ekstrem di tahun 2026 ini, sangat mengganggu hasil pertanian yang ada di kelompok tani saya. Yang biasanya jagung bisa hasil maksimal, karena dampak kekeringan bahkan bisa gagal total. Ada juga yang hasilnya berkurang sampai 80 persen,” kata Mulyono.
Menurutnya, mayoritas lahan pertanian di Asemrudung merupakan lahan tadah hujan. Petani selama ini mengandalkan sumur gali untuk memenuhi kebutuhan air tanaman ketika hujan tidak turun.
Ia mengakui bantuan sumur dari Dinas Pertanian memang telah diberikan kepada kelompok tani. Namun, keberadaan sumur tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan pengairan karena sumber air semakin terbatas selama kemarau panjang.
“Karena sifatnya tidak ada hujan, sumur dangkal jadi karena kemarau yang sangat ekstrem ini tidak mencukupi untuk merawat tanaman jagung pada saat ini,” ujarnya.
Mulyono menegaskan, keterbatasan air menjadi persoalan utama yang membuat produktivitas jagung turun drastis. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, petani harus menghadapi risiko gagal panen.
“Yang jelas karena kekurangan air, tanaman pasti tidak bisa maksimal dan akhirnya gagal panen juga menjadi risiko untuk petani,” katanya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Desa Asemrudung, Suraji. Menurutnya, kekeringan tidak hanya berdampak terhadap pertanian, tetapi juga mengganggu ketersediaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.
“Adanya kekeringan di Desa Asemrudung, dampaknya banyak sekali, terutama untuk kepentingan air bersih untuk rumah tangga dan juga untuk lahan-lahan pertanian,” ujar Suraji.
Ia menyebut lahan pertanian warga yang sebagian besar bergantung pada hujan mengalami penurunan hasil panen hingga sekitar 50 persen.
“Kalau biasanya satu hektar itu dapat lima ton, ini tidak dapat karena dampak dari kekeringan tersebut. Banyak tanaman yang mati sebelum bijinya itu bisa menua,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat petani mengalami kerugian cukup besar. Bahkan, warga belum dapat memulai kembali pengolahan lahan karena tanah masih sangat keras akibat tidak adanya hujan.
“Belum, karena tanahnya saja di cangkul masih keras seperti batu, tidak bisa. Masih menunggu turunnya hujan, nanti baru memulai menggarap lahan sawah maupun lahan yang ada di hutan,” kata Suraji.
Suraji menjelaskan, sebagian besar warga Asemrudung menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian, baik melalui lahan milik sendiri maupun sebagai petani hutan. Karena itu, dampak kekeringan langsung dirasakan terhadap perekonomian masyarakat.
Untuk membantu petani bangkit setelah mengalami kerugian akibat kekeringan, pemerintah desa berharap ada bantuan pada musim tanam berikutnya, terutama berupa benih.
“Kami mengharapkan ada bantuan pemerintah untuk musim tanam yang akan datang, untuk pemberian benih, agar kerugian yang dialami petani saat ini bisa terobati pada musim tanam yang akan datang,” pungkasnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Tia











