REMBANG, Harianmuria.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang mencatat 428 peristiwa kebakaran pada Januari hingga 11 Agustus 2026.
Sekretaris BPBD Rembang, M. Luthfi Hakim, mengungkapkan dari ratusan peristiwa kebakaran tersebut didominasi kebakaran lahan.
“Kalau kebakaran dan penyelamatan, sampai 11 Agustus ini sudah tercatat 428 kejadian yang kami tangani melalui BPBD dan Damkar. Kebanyakan memang kebakaran lahan,” ujarnya, Selasa, 18 Agustus 2026.
Menurutnya, kebakaran lahan dipicu musim kemarau yang membuat vegetasi dan material mengering sehingga mudah terbakar.
Untuk mencegah kebakaran, BPBD Rembang mengimbau masyarakat meningkatkan kehati-hatian, terutama saat melakukan aktivitas yang berkaitan dengan api.
Luthfi menyebut kejadian kebakaran pada awal hingga pertengahan 2026 cukup tinggi. Pada Februari tercatat 49 kejadian, Maret 62 kejadian, April 74 kejadian, Mei 62 kejadian, Juni 79 kejadian, dan Juli mencapai 73 kejadian.
Sementara pada Agustus, hingga 18 Agustus tercatat 26 kejadian. Jumlah tersebut merupakan akumulasi kejadian yang ditangani BPBD dan masih dapat bertambah seiring pembaruan laporan.
“Paling mendominasi itu lahan, karena cuacanya kering. Kondisinya sekarang kemarau panjang dan udaranya sangat kering. Ini baru mulai, jadi kami mohon masyarakat sangat berhati-hati terhadap sekecil apa pun potensi kebakaran,” katanya.
BPBD mengajak masyarakat tidak hanya mengandalkan petugas, tetapi turut berperan dalam upaya pencegahan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebiasaan membakar lahan untuk membersihkan sisa tanaman atau material yang sudah tidak digunakan.
Luthfi mengingatkan, apabila pembakaran lahan memang dilakukan, masyarakat tidak boleh meninggalkan api begitu saja. Api harus dipastikan benar-benar padam agar tidak merembet ke area lain.
“Kalau memang sengaja untuk membersihkan lahan dengan cara dibakar, wajib ditunggu. Karena kalau sampai diproses hukum, ancaman pidananya bisa tinggi, bahkan bisa sampai 10 tahun,” jelasnya.
Selain itu, masyarakat dapat berkoordinasi dengan penyuluh pertanian maupun penyuluh kehutanan untuk mengelola sisa tanaman menjadi kompos. Selain lebih aman, pemanfaatan tersebut juga dapat memberikan nilai guna bagi masyarakat.
BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan di lingkungan rumah dan kandang ternak.
Salah satu potensi yang perlu diperhatikan adalah penggunaan obat nyamuk atau sumber api lainnya di sekitar kandang. Material seperti pakan ternak yang kering sangat mudah terbakar apabila terkena api.
“Paling tidak diberi penyekat atau menggunakan wadah yang aman supaya api tidak merembet ke pakan sapi. Karena pakan sapi kebanyakan sudah kering,” ungkap Luthfi.
Menurutnya, langkah sederhana seperti memberikan jarak antara sumber api dengan bahan yang mudah terbakar dapat menjadi bagian penting dari pencegahan kebakaran.
BPBD Rembang terus mendorong masyarakat untuk membangun budaya siaga bencana. Terlebih, kondisi kemarau panjang membuat potensi kebakaran dapat meningkat sewaktu-waktu.
Luthfi menegaskan bahwa pencegahan menjadi langkah utama yang harus dilakukan bersama antara pemerintah dan masyarakat.
“Ini baru mulai. Jadi kami mohon untuk sangat berhati-hati dengan sekecil apa pun potensi kebakaran,” tegasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











