SEMARANG, Harianmuria.com – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi merespon aspirasi para peternak yang melakukan aksi demo pada Senin, 10 Agustus 2026 kemarin di sejumlah wilayah di Jateng.
Ia mengaku telah memerintahkan dinas terkait untuk turun kelapangan memantau dan melakukan evaluasi terhadap harga telur yang anjlok serta harga pakan yang tinggi.
“Saya suruh Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Jateng untuk memanggil baik itu kelompok tani (Poktan) dan perusahan-perusahaan terkait dengan pakan untuk diskusi dengan kita. Nanti saya sampaikan kepada peternak di wilayah kita yang sudah asosiasi dan audiensi dengan kita,” ujarnya, Selasa, 11 Agustus 2026.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Jateng Defransisco Dasilva Tavares mengatakan salah satu penyebab naiknya harga pakan ternak yakni adanya SPPG dengan jumlah banyak.
Menurutnya hal ini memunculkan animo masyarakat yang mulai membuka bisnis peternakan. Selain itu, ia menuturkan Indonesia juga masih ketergantungan dengan impor jagung.
“Ditambah lagi dengan animo masyarakat yang baru berusaha untuk beternak ayam ini juga meningkat karena adanya SPPG, terus mereka melihat ini sebagai peluang sehingga muncul tambahan peternak-peternak baru,” kata dia.
Namun sesuai arahan Menteri Pertanian, pihaknya menegaskan produsen pakan telah dilarang menaikan harga meski di tengah kondisi yang belum stabil. Intervensi lain yang dilakukan Distannak Jateng adalah berkoordinasi dengan Bulog agar bisa menambah SPHP jagung.
“Karena 60 persen pakan itu asalnya atau bahanya dari jagung. Otomatis suplai dari SPHP yang diserap di Bulog itu bisa dikeluarkan lebih banyak untuk kebutuhan yang memang kondisinya sedang seperti ini. Kedepan kita juga akan menggiatkan kemitraan antara petani tanaman jagung dengan peternak,”ungkapnya.
Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Jateng, Suwardi, mengungkap pada Senin kemarin, para anggotanya menggelar demo di Kendal, Temanggung, Magelang, Pekalongan, Wonosobo, Pati, Grobogan, dan Boyolali.
Dalam aksi yang berlangsung damai itu, ia mengungkap harga telur terus merosot di tengah harga pakan yang semkain naik. Kondisi ini dinilai memberatkan para peternak karena dapat menimbulkan kerugian.
“Harga pakan terus melambung, dari April hingga Agustus sudah 25 persen. Harga telur sejak Mei sampai Agustus turun terus sampai titik terendah Rp15 ribu di kandang. Jadi biaya ongkos produksi dan hasil produksi tidak seimbang. Akibatnya peternak merugi, bertahan dengan penyusutan” kata Suwardi ketika diwawancara, Selasa, 11 Agustus 2026.
Pihaknya juga merasa keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan program MBG tidak berdampak secara signifikan terhadap kesejahteraan para peternak.
“Keberadaan MBG, walau sudah ada rapat kesepakatan dan nota dinas, KPPG (Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi) wilayah di bawah tidak ada efek karena semua dikendalikan oleh pemilik dapur atau pengelola, sehingga peran SPPG tidak maksimal,” ucapnya.
Suwardi mengungkapkan, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono sempat menyampaikan agar SPPG dapat membeli telur ayam di kandang seharga Rp25 ribu per kilogram.
“Faktanya jauh. Belinya Rp21-Rp22 ribu (per kilo) sudah diantar. Contoh di Kendal, per hari ini yang komitmen membeli di harga Rp26 ribu hanya beberapa dapur,” kata dia.
Menurut Suwardi, pihaknya sudah sempat melakukan rapat dengan Gubernur Jateng, termasuk Menteri Pertanian (Mentan), terkait persoalan-persoalan tersebut.
“Tapi belum ada kepastian kondisi ini akan membaik. Maka kemarin anggota kami di enam kabupaten serentak turun aksi damai,” ujarnya.
Dia mengatakan, tuntutan utama dalam demo pada Senin kemarin adalah agar pemerintah segera menurunkan harga pakan ternak. Selain itu mereka menuntut penambahan kuota jagung SPHP untuk peternak.
“Jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga pangan (SPHP) menjadi satu bagian yang bisa meringankan biaya pakan karena harga Rp5.500 sampai peternak dan harga pasaran jagung saat ini Rp6.800-Rp7.000 (per kilo),” ucap Suwardi.
Suwardi berharap tuntutan para peternak unggas dapat direspons oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait. Sebagai informasi, KPUS Jateng memiliki 1.767 anggota peternak yang tersebar di 10 kabupaten/kota.
Jurnalis: Rizky Syahrul
Editor: Tia











