SEMARANG, Harianmuria.com – Sebanyak 176 Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) dari 16 kecamatan di Kota Semarang mengikuti lomba kesiapsiagaan yang digelar Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang.
Masing-masing kecamatan mengirimkan 11 relawan. Dalam perlombaan ini, para peserta diuji melalui sejumlah simulasi yang menggambarkan kondisi penanganan kebakaran di lingkungan masyarakat.
Tidak hanya soal kecepatan, para relawan juga dituntut mampu menggunakan peralatan pemadam dengan tepat, bekerja sama dalam tim, hingga melakukan evakuasi korban.
Sejumlah tantangan disiapkan di halaman Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang. Peserta harus melewati ban bekas dan cone secara zig-zag sebelum menuju titik pemadaman.
Setelah itu, peserta dihadapkan pada simulasi pemadaman api dari kompor dan tabung LPG tiga kilogram. Tantangan dilanjutkan dengan pemadaman api pada drum menggunakan APAR dan kain.
Sekretaris Daerah Kota Semarang Handi Priyanto mengatakan, lomba tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kemampuan para relawan yang tersebar di seluruh kecamatan.
“Ini untuk menjaga skill dan kompetensi Redkar. Kemampuan para relawan di masing-masing kecamatan perlu terus dijaga, salah satunya melalui kegiatan seperti ini,” katanya, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Menurut Handi, simulasi yang diberikan sengaja dibuat menyerupai kondisi sederhana yang bisa terjadi di tengah masyarakat. Mulai dari pemadaman api kecil, penggunaan APAR, hingga proses evakuasi menggunakan tandu.
“Jadi ada pemadaman api kecil dan sederhana, kemudian ada tandu untuk melatih kesiapsiagaan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antar-Redkar dari 16 kecamatan,” ujarnya.
Setelah menyelesaikan tahapan pemadaman, anggota tim harus membawa tandu secara bersama-sama dalam simulasi evakuasi korban.
Kemampuan koordinasi menjadi salah satu hal yang diperhatikan. Sebab, menurutnya kondisi sebenarnya di lapangan tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kerja sama dan ketepatan tindakan.
Keberadaan Redkar dinilai penting karena relawan berada lebih dekat dengan masyarakat dibandingkan petugas Damkar.
Saat terjadi kebakaran, relawan diharapkan mampu memberikan respons awal, membantu mengamankan situasi, sekaligus menyampaikan informasi kepada petugas sebelum armada tiba di lokasi.
Handi menyebut, kesiapsiagaan relawan menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat respons terhadap kejadian kebakaran.
“Kami mengapresiasi kegiatan ini karena kesiapsiagaan Redkar menjadi salah satu ujung tombak Damkar untuk menjaga waktu respons ketika terjadi kejadian,” katanya.
Selain meningkatkan kompetensi relawan, Pemerintah Kota Semarang juga menyiapkan tambahan armada pemadam kebakaran. Handi mengatakan, tahun ini terdapat pengadaan tiga kendaraan baru.
“Tahun ini ada pengadaan tiga mobil. Dua unit Damkar dengan kapasitas air 1.000 liter dan satu mobil rescue,” kata Handi.
Armada berukuran lebih kecil tersebut, kata dia, disiapkan untuk menjangkau kawasan permukiman yang memiliki akses jalan sempit.
“Kalau terjadi kebakaran di wilayah yang jalannya sempit dan truk tidak bisa masuk, ada unit kecil yang bisa masuk ke tengah permukiman. Ini yang menjadi solusinya,” ujarnya.
Sementara mobil rescue akan difungsikan untuk mendukung proses penyelamatan dalam berbagai kondisi darurat.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang Sih Rianung menambahkan, para relawan juga telah mendapatkan sejumlah peralatan untuk mendukung penanganan awal.
“Pada laporan awal sebelum kami datang, relawan itu sangat membantu. Mereka sudah dibekali alat di tingkat kecamatan, sehingga bisa membantu melakukan penanganan awal,” jelasnya.
Meski demikian, Redkar bukan pengganti petugas Damkar. Relawan tetap berperan sebagai bagian dari sistem kesiapsiagaan masyarakat, sementara penanganan profesional tetap dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran.
Rianung berharap jumlah relawan pemadam kebakaran di Kota Semarang terus bertambah.
Menurutnya, masyarakat menjadi pihak yang paling dekat dengan lokasi ketika kebakaran pertama kali terjadi.
“Harapannya relawan yang ada di Kota Semarang semakin bertambah. Kami banyak dibantu masyarakat karena masyarakat itu berada di tempat saat kejadian pertama kali terjadi,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Tia











