JEPARA, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten Jepara mendukung pengembangan dan pelestarian situs cagar budaya, salah satunya peninggalan Ratu Kalinyamat di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan.
Bupati Jepara Witiarso Utomo berkomitmen memberikan dukungan terhadap setiap langkah pelestarian cagar budaya yang dilakukan masyarakat.
“Kalau memang untuk kepentingan pelestarian budaya dan cagar budaya, tentu pemerintah akan mendukung sepenuhnya,” tegasnya saat meninjau situs peninggalan Ratu Kalinyamat di Desa Kriyan pada Kamis, 16 Juli 2026.
Di kawasan tersebut terdapat bangunan yang dikenal masyarakat sebagai Langgar Bubrah. Bangunan ini diyakini telah ada sejak masa Kerajaan Ratu Kalinyamat.
Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir juga ditemukan sejumlah artefak yang diduga memiliki nilai sejarah tinggi.
Menurutnya, keberadaan situs dan benda-benda bersejarah itu merupakan aset penting bagi Jepara. Oleh karena itu seluruh temuan memerlukan penelitian dan kajian akademis agar dapat dipastikan nilai sejarah serta asal-usulnya.
“Temuan-temuan ini perlu dijelaskan secara ilmiah oleh para ahli sehingga sejarahnya bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Di sisi lain, Bupati Jepara menilai penetapan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional semakin memperkuat posisi tokoh perempuan tersebut dalam sejarah Indonesia.
“Alhamdulillah Ratu Kalinyamat telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Ini menegaskan bahwa beliau adalah tokoh sejarah nyata yang patut kita lestarikan jejak perjuangannya,” imbuhnya.
Sementara itu, para pegiat budaya mengusulkan agar Masjid Al Makmur dilengkapi ruang galeri sebagai tempat penyimpanan dan edukasi berbagai artefak yang telah ditemukan di kawasan Desa Kriyan.
Pegiat sejarah Kalinyamat, M. Hisyam Maliki, meyakini bahwa Desa Kriyan merupakan salah satu pusat pemerintahan Ratu Kalinyamat. Hal itu didasarkan pada keberadaan sejumlah temuan di tiga titik, yakni Langgar Bubrah, kawasan Sitinggil, dan Masjid Al Makmur.
Ia berharap kawasan tersebut dapat dikembangkan sebagai destinasi sejarah melalui pembangunan museum atau pusat informasi budaya.
Namun, menurutnya, upaya tersebut masih menghadapi tantangan karena sebagian lokasi temuan berada di lahan milik warga dan terdapat area pemakaman di atasnya.
“Kami berharap jika nantinya dibangun museum atau fasilitas pelestarian lainnya, lokasinya tetap berada di Desa Kriyan agar nilai sejarahnya tetap terjaga,” tuturnya.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Ulfa











