KUDUS, Harianmuria.com – Ribuan warga memadati kawasan Kompleks Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus sejak subuh untuk mengikuti pembagian nasi berkat atau yang lebih dikenal sebagai nasi jangkrik dalam rangkaian puncak Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus, Kamis, 25 Juni 2026.
Juru Bicara Panitia Buka Luwur Sunan Kudus, Denny Nur Hakim, mengatakan jumlah nasi yang dibagikan kepada masyarakat tahun ini mencapai lebih dari 34.000 bungkus.
“Jumlah nasi Buka luwur yang disediakan setiap tahunnya ada perbedaan, karena disesuaikan dengan jumlah hewan ternak yang disembelih dan beras bantuan dari masyarakat luas. Sedangkan tahun ini sebanyak 34.000 bungkus lebih,” kata Denny.
Ia menjelaskan, seluruh rangkaian kegiatan Buka Luwur merupakan bentuk keteladanan dan penghormatan masyarakat Kudus terhadap Sunan Kudus sebagai penyebar Islam dan pendiri Kota Kudus.
Menurutnya, tradisi ini juga mencerminkan nilai gotong royong, karena seluruh pendanaan berasal dari sedekah masyarakat, baik dalam bentuk uang, beras, kain, maupun hewan ternak.
Tahun ini, panitia menerima sedekah sebanyak 22 ekor kerbau dan 92 ekor kambing yang kemudian disembelih dan diolah menjadi dua menu khas, yakni uyah asem dan masakan jangkrik.
“Pada tanggal 9 Muharam 1448 Hijriah, hewan sedekah tersebut diolah menjadi dua menu masakan yaitu uyah asem dan masakan jangkrik. Keduanya merupakan menu yang identik dengan tradisi Buka Luwur Sunan Kudus,” ujarnya.
Dari total distribusi, lebih dari 34.000 bungkus nasi yang dibagikan kepada masyarakat berisi menu uyah asem. Pemilihan menu tersebut dilakukan agar makanan tetap tahan lebih lama saat dibagikan ke berbagai wilayah.
“Kalau yang dibagikan kepada masyarakat menu masakan jangkrik yang berkuah, tentu nasi akan lebih cepat basi. Karena itu yang dibagikan berupa nasi dengan lauk uyah asem,” ujarnya.
Distribusi nasi dilakukan sejak dini hari sebelum subuh ke berbagai wilayah di Kabupaten Kudus. Ribuan warga tampak antre sejak pagi untuk mendapatkan nasi Buka Luwur yang diyakini membawa berkah serta menjadi bagian dari tradisi turun-temurun.
Tradisi Buka Luwur sendiri digelar setiap 10 Muharam sebagai ritual penggantian kelambu di makam Sunan Kudus, sekaligus menjadi agenda budaya dan keagamaan yang terus dilestarikan masyarakat.
Salah seorang warga, Karsani, asal Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, mengaku sudah antre sejak selesai salat Subuh bersama keluarganya untuk mendapatkan nasi tersebut.
Ia mengaku setiap tahun mengikuti tradisi ini dengan harapan ngalap atau memperoleh berkah, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah berlangsung lama di Kudus.
Jurnalis: Ant
Editor: Rosyid











