REMBANG, Harianmuria.com – Nelayan di Kabupaten Rembang dalam sebulan terakhir memilih tidak melaut lantaran kenaikan harga solar industri atau nonsubsidi terlalu memberatkan. Namun, pada pertengahan Mei 2026 terpantau sebagian mulai melaut lagi.
Sementara itu pantauan di Pelabukan Tasikagung tampak para anak buah kapal (ABK) memperbaiki kapal dan alat tangkap. Kendati begitu, aktivitas bongkar ikan dan tempat pelelangan ikan terlihat sepi.
Informasi di lapangan, lelang ikan hanya berlangsung pada pagi hari dan sekitar pukul 11.00 WIB sudah selesai. Warung-warung di sekitar pelabuhan juga banyak yang tutup karena aktivitas nelayan berkurang drastis.
Seorang juru mudi kapal asal Desa Pasarbanggi, Suwartono, mengatakan mayoritas kapal di Tasikagung berukuran di atas 30 Gross Tonage (GT) sehingga harus menggunakan solar industri.
“Kapal-kapal di sini kebanyakan 30 GT ke atas. Kalau 30 GT ke bawah boleh pakai solar subsidi. Di atasnya sudah tidak boleh, harus pakai solar industri. Sekarang ini di Tasikagung ada sekitar 600 kapal mogok,” ujar Suwartono, Rabu, 20 Mei 2026.
Suwartono mengatakan bahwa satu kali melaut biasanya berlangsung hingga 26 hari. Dalam sekali perjalanan, dirinya bisa mendapat bagi hasil Rp5 juta hingga Rp8 juta. Namun, pihaknya belum melaut lagi sejak harga solar naik
“Ini semenjak kenaikan solar belum berangkat lagi,” katanya.
Menurutnya, harga solar industri sempat melonjak tajam. Saat bulan puasa, harga solar masih sekitar Rp10.500 per liter, lalu naik hingga Rp18.600 sebelum perlahan turun.
“Sekarang sekitar Rp14.500 per liter. Kapal yang saya pakai ini 62 GT, jadi harus pakai solar industri,” jelasnya.
Lantaran banyak kapal berhenti melaut, harga ikan pun mengalami kenaikan karena stok menipis. Harga ikan demang misalnya kini mencapai Rp12 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp8-9 ribu.
Sementara ikan kuniran naik menjadi Rp10 ribu per kilogram dari biasanya Rp4-6 ribu. Sedangkan cumi-cumi dijual Rp40 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram tergantung ukuran.
“Kapal sini kebanyakan berangkat ke perairan Bawean sama Masalembu. Sekali perjalanan pulang-pergi kapal saya butuh sekitar 9 ribu liter solar,” imbuhnya.
Hal senada disampaikan Mad Ikhsan, motoris kapal asal Desa Tritunggal. Ia mengaku sudah hampir sebulan tidak melaut akibat kenaikan harga BBM.
“Pendapatan biasanya Rp3 juta sekali berangkat. Hampir sebulan ini belum melaut lagi gara-gara harga solar naik. Sekarang ya cuma memperbaiki kapal-kapal saja,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Paguyuban Nelayan Jaring Tarik Berkantong (JTB) Bhaita Adhiguna Rembang, Maksum, mengatakan masih ada sebagian nelayan yang tetap melaut.
“Sekitar 40 persen masih melaut, 60 persen memilih libur dulu. Kita masih menunggu keputusan pemerintah terkait harga solar khusus nelayan,” ujar Maksum.
Ia menyebut nelayan telah audiensi dengan DPRD Rembang untuk meminta penetapan harga solar khusus nelayan. Saat ini, pihaknya masih menunggu koordinasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Kementerian ESDM.
Di sisi lain, Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Rembang menyebut kondisi nelayan mulai berangsur membaik setelah adanya pasokan BBM nonsubsidi dengan harga lebih rendah.
Sekretaris Dinlutkan Rembang, Nurida Andante, mengatakan kapal-kapal JTB di Tasikagung mulai kembali melaut karena mendapat suplai BBM dari PT Indah Raya Santosa dengan harga Rp14.700 per liter.
“Nelayan yang memakai BBM nonsubsidi sekarang sudah terfasilitasi oleh supplier PT Indah Raya Santosa dengan harga Rp14.700 per liter. Pantauan kami, kapal-kapal sudah mulai ada yang berangkat melaut,” kata Nurida.
Menurutnya, harga tersebut masih lebih terjangkau dibanding sebelumnya yang sempat menyentuh Rp18 ribu hingga Rp23 ribu per liter.
“Meskipun tetap ada penambahan biaya operasional, tapi ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya saat harga terus naik,” pungkasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











