REMBANG, Harianmuria.com – Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) di Desa Padaran, Kecamatan/Kabupaten Rembang menunggu tahap pengujian untuk memastikan dapat berfungsi optimal.
Sebelumnya, warga setempat memprotes operasional SPPG Padaran yang menimbulkan bau sehingga mengganggu kenyamanan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rembang, Ika Afandi, mengatakan pemasangan IPAL telah selesai sesuai batas waktu yang ditetapkan pada 19 Mei 2026. Pihak DLH juga telah memonitor progres pengerjaan.
“Iya, batas waktu IPAL kan 19 Mei. Kemarin memang sudah kita monitoring. Jadi memang mereka tanggal 18 kemarin itu sebenarnya sudah selesai,” ujarnya, Selasa, 19 Mei 2026.
Ika menuturkan bahwa perangkat IPAL sudah terpasang dan tinggal menunggu tahap pengecekan melalui proses running dan trial untuk memastikan hasil pengolahan limbah sudah sesuai standar.
“Sudah dipasang. Tinggal pengecekan saja, nanti saat running perlu trial apakah hasilnya sudah sesuai,” tambahnya.
IPAL SPPG Padaran Tak Sesuai Standar, DLH Rembang Minta Perbaikan hingga 19 Mei 2026
Sementara itu, pemilik SPPG Padaran, Purhadi, menyampaikan bahwa seluruh perangkat keras IPAL selesai dipasang. Saat ini pihaknya menunggu kedatangan tim teknisi dari Bandung untuk melakukan instalasi akhir sekaligus uji coba sistem.
“Sudah jadi, tinggal nunggu tim dari Bandung untuk trial. Perangkat kerasnya sudah terpasang semua,” katanya.
Tak Tahan Bau dan Kebisingan, Warga Padaran Rembang Minta 3 Dapur MBG Dipindah
Purhadi menjelaskan bahwa teknisi dijadwalkan datang dalam satu hingga dua hari ke depan. Dalam proses uji coba nanti, pihaknya akan mengundang DLH Rembang untuk ikut memantau dan menguji efektivitas IPAL tersebut.
“Nanti DLH juga akan kami undang untuk mengetesnya, apakah ini sudah berhasil atau belum. Setelah trial, kami juga akan bersurat ke DLH,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini fokus utama tinggal pada tahap instalasi teknis dan pengujian sistem agar IPAL benar-benar mampu mengatasi persoalan bau yang selama ini dikeluhkan warga sekitar.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











