SEMARANG, Harianmuria.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus dan Leptospirosis di wilayah setempat. Langkah itu dilakukan menyusul meningkatnya kasus Leptospirosis sepanjang 2026 meskipun hingga kini belum ditemukan kasus Hantavirus.
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, mengatakan pihaknya selama tiga tahun terakhir rutin melakukan penelitian terhadap manusia dan tikus untuk mendeteksi potensi penyebaran Hantavirus.
“Kita tiga tahun berturut-turut melakukan sampling penelitian, baik ke manusia maupun hewan tikus. Tahun 2023 dari 110 sampel manusia ada sekitar 3 persen yang positif Hanta. Namun pada 2024 dan 2025, hasil sampling baik pada manusia maupun tikus dinyatakan negatif,” ujarnya, Senin, 11 Mei 2026.
Ia memastikan hingga saat ini belum ada laporan kasus Hantavirus yang ditemukan di fasilitas kesehatan di Kota Semarang.
“Alhamdulillah sampai detik ini belum ada temuan kasus Hantavirus, baik di rumah sakit maupun puskesmas yang ada di Kota Semarang,” katanya.
Meski demikian, hasil pemeriksaan Dinkes pada 2025 menunjukkan sekitar 30 persen tikus dan celurut yang diuji membawa bakteri Leptospira penyebab Leptospirosis. Kondisi tersebut dinilai menjadi perhatian serius karena dapat meningkatkan risiko penularan penyakit kepada masyarakat.
“Ini yang kemudian sejak 2025 kami sampaikan kepada masyarakat agar melakukan PTP atau Pemberantasan Tikus Permukiman supaya kasus Lepto bisa dikendalikan,” jelasnya.
Menurut Abdul Hakam, meningkatnya kasus Leptospirosis pada 2026 dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kondisi lingkungan, kelembapan udara, suhu, hingga rendahnya perilaku hidup bersih masyarakat.
“Kalau suhu, kelembapan, lingkungan, dan perilaku hidup sehat masyarakat tidak baik, maka risiko terpapar Lepto menjadi sangat tinggi,” ungkapnya.
Sebagai langkah pencegahan sekaligus meningkatkan kewaspadaan, Dinkes Kota Semarang terus menggencarkan edukasi melalui program Gembira Ria atau Gerakan Buka Jendela dan Pintu Rumah, membersihkan rumah, serta aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari. Program tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang tidak nyaman bagi tikus berkembang biak.
“Kalau sinar matahari bisa masuk, udara keluar masuk, rumah dibersihkan, maka tikus tidak akan nyaman berkembang di lingkungan rumah,” katanya.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga diminta melakukan pemberantasan tikus dengan menggunakan perangkap tertutup. Dinkes mengimbau warga menghindari penggunaan perangkap lem karena dinilai dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.
“Kalau pakai lem, tikus akan gelisah dan bisa kencing di mana-mana. Maka lebih baik menggunakan perangkap tertutup,” ujarnya.
Dinkes menjelaskan gejala awal Hantavirus memiliki kemiripan dengan demam berdarah dan Leptospirosis, seperti demam tinggi, nyeri tubuh, dan rasa ngilu. Virus tersebut memiliki masa inkubasi sekitar 7 hingga 14 hari dan berpotensi menyerang sistem pernapasan hingga menyebabkan gagal napas.
“Yang membahayakan, virus ini menyerang saluran pernapasan hingga menyebabkan gagal napas seperti pneumonia,” katanya.
Menurutnya, hingga kini belum tersedia antivirus khusus untuk penanganan Hantavirus. Penanganan medis dilakukan dengan meningkatkan daya tahan tubuh pasien serta mengatasi gejala klinis yang muncul.
“Kalau pasien mau makan, minum, dan daya tahan tubuhnya baik, maka virus bisa mati dengan sendirinya. Tetapi kalau sudah mengarah ke gagal napas, tentu akan dilakukan penanganan intensif di rumah sakit,” tandasnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid











