KUDUS, Harianmuria.com – Pabrik Gula Rendeng, Kabupaten Kudus membuka musim giling tahun 2026 dengan prosesi kirab manten tebu.
Tradisi tahunan ini menjadi simbol dimulainya produksi gula sekaligus wujud pelestarian kearifan lokal di lingkungan pabrik gula.
Prosesi kirab diawali dengan arak-arakan manten tebu dan diiringi para pengantar yang membawa batang tebu di bagian belakang. Sementara di barisan depan, seni barong turut mengawal perjalanan pengantin tebu. Hal ini menambah semarak dan nuansa budaya dalam kegiatan tersebut.
General Manager PG Rendeng, Erwin Fitri Hatmoko, menjelaskan bahwa tradisi kirab manten tebu telah diwariskan secara turun-temurun dan merupakan simbol masuknya musim giling.
Manten tebu putra diberi nama Raden Bagus Langgeng Laksono Widodo yang memiliki makna perilaku baik yang abadi dan konsisten dalam kebaikan. Sedangkan manten putri bernama Roro Sri Rahayu Semseming Manis yang mengandung makna kemuliaan dan kesejahteraan hidup.
“Tradisi ini bukan sekadar seremonial, tetapi juga doa agar musim giling berjalan lancar dan menghasilkan produksi yang optimal,” ujarnya.
Untuk musim giling tahun 2026, PG Rendeng menargetkan tebu tergiling mencapai 400 ribu ton dengan rendemen sebesar tujuh persen. Dari target tersebut, produksi gula diproyeksikan mencapai 28 ribu ton. Target ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencatat tebu tergiling sebanyak 328 ribu ton.
Sementara itu, Administratur KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan, mengungkapkan pihaknya menjadi salah satu mitra pemasok tebu bagi PG Rendeng. Ia menyebutkan, luas lahan kerja sama di wilayah KPH Purwodadi mencapai sekitar 120 hektare.
“Dari luas tersebut, potensi panen bisa mencapai lebih dari 1.000 ton dalam sekali panen,” jelasnya.
Melalui sinergi antara pabrik gula dan berbagai pihak, ia berharap musim giling tahun ini dapat berjalan optimal dan memberikan kontribusi positif bagi produksi gula nasional.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











