BLORA, Harianmuria.com – Sebanyak 14 keluarga terdampak bencana tanah ambles di Dukuh Nglajo, Kelurahan/Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora mengungsi di rusunawa.
Ketua Pengelola Rusunawa Cepu, Sugiharto, mengatakan para korban bencana tanah ambles di Dukuh Nglajo itu masuk di Rusunawa Cepu mulai 18 November 2025 sebanyak 10 keluarga. Kemudian disusul pada 4 Februari ada tambahan empat keluarga yang mengungsi.
“Total ada 14 dan masing-masing KK itu menempati satu ruangan. Semuanya ada di lantai lima dan satu keluarga ada di lantai empat,” ujar Sugiharto, Kamis, 12 Februari 2026.
Sugiharto menyampaikan bahwa para korban tanah ambles hanya disediakan kamar dengan fasilitas dapur, ruang tamu, kamar mandi dan satu ruang tidur.
Untuk ketersediaan kamar di Rusunawa Cepu itu masih ada empat kamar jika ada keluarga yang terdampak bencana.
“Usulan relokasi warga ke Rusunawa Cepu itu dari kepolisian dan kelurahan. Kemudian dari pimpinan untuk permintaan tersebut disetujui dan segera kami bersihkan,” ujarnya.
Sedangkan untuk biaya sewa, listrik dan air itu gratis tidak dipungut biaya. Korban hanya menempati dan membersihkan ruangan selagi bencana masih terjadi.
“Tidak ada pungutan biaya sewa, listrik dan air. Semuanya ditanggung Pemerintah Blora khusus untuk korban bencana,” katanya.
Sementara itu, Risman, salah satu warga terdampak di RT 4 RW 8 Dukuh Nglajo, Kelurahan Cepu, mengaku sudah tinggal di Rusunawa sejak November 2025. Perabotan-perabotan miliknya seperti televisi, kulkas dan lemari tidak bisa dibawa ke rusunawa.
“Kalau di rusunawa ya kadang tidur malam, kalau pagi sama siang itu kembali ke rumah buat cari barang-barang yang bisa diselamatkan,” ucapnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











