SEMARANG, Harianmuria.com – Dinas Sosial Kota Semarang mencatat sebanyak tujuh siswa telah mengundurkan diri dari Sekolah Rakyat setempat.
Plt. Kepala Dinas Sosial Kota Semarang. Endang Sarwiningsih, mengatakan sejumlah peserta didik memilih keluar dari Sekolah Rakyat bukan karena mutu pendidikan, melainkan lantaran desakan ekonomi keluarga.
“Sebagian orang tua berharap anaknya bisa segera bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Ada juga yang sejak awal terbiasa mengandalkan aktivitas meminta-minta, sehingga anak diarahkan ikut menopang penghasilan keluarga,” kata pada Kamis, 29 Januari 2026.
Saat ini, kuota Sekolah Rakyat di Kota Semarang masing-masing sebanyak 50 siswa untuk jenjang SMP dan 50 siswa untuk SMA. Namun, dalam perjalanannya terdapat siswa yang mengundurkan diri pada jenjang SD dan SMA.
“Yang keluar sekitar tujuh anak. Alasannya beragam, tetapi mayoritas karena orang tua keberatan anaknya tinggal di asrama dan tidak bisa langsung bekerja,” katanya.
Ia mengaku bahwa sebelum siswa diterima di Sekolah Rakyat, pihaknya telah memberikan penjelasan serta membuat kesepakatan dengan orang tua dan anak.
Sebagai upaya solusi, kata Endang, Dinas Sosial Kota Semarang tidak hanya fokus pada pendidikan anak, tetapi juga melakukan pemberdayaan ekonomi orang tua siswa. Bantuan yang diberikan disesuaikan dengan minat dan potensi masing-masing keluarga.
“Kalau orang tuanya tertarik berdagang sembako, kami bantu etalase dan modal barang. Kalau ingin usaha es tebu, kami fasilitasi mesin penggiling. Bahkan ada yang ingin pijat, kami beri pelatihan,” ujarnya.
Bagi siswa yang mengundurkan diri, Pemkot Semarang langsung mengajukan peserta pengganti dari keluarga kategori desil satu dan desil dua, sesuai dengan ketentuan Kementerian Sosial.
“Kalau memang tidak bersedia, tentu tidak bisa dipaksa. Tetapi kuota tetap kami isi dari keluarga miskin ekstrem agar program Sekolah Rakyat tetap tepat sasaran,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid










