BLORA, Harianmuria.com – Ribuan hektare tanaman tebu milik petani di Blora terancam tidak bisa digiling setelah Pabrik Gula (PG) Gendhis Multi Manis (GMM) di Todanan menghentikan operasional akibat kerusakan mesin boiler. Kejadian ini menimbulkan keresahan karena berdampak langsung pada penghidupan ribuan petani tebu.
Seperti diketahui, PT GMM resmi menghentikan musim giling tebu tahun 2025 lebih cepat dari jadwal pada Kamis, 25 September 2025. Kerusakan parah pada dua unit boiler yang vital membuat operasional pabrik tidak dapat dilanjutkan.
Baca juga: Boiler Rusak dan Target Meleset, PT GMM Blora Catat Kerugian Rp134 Miliar di 2025
Petani Tuntut Solusi, Kecam Manajemen PG GMM
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora, Sunoto, menyampaikan kekecewaannya atas kinerja manajemen PG GMM, terutama terkait penempatan personel non-ahli di bagian vital.
“PG itu jantungnya ada di boiler. Tapi teknisi boiler diganti orang yang bukan ahlinya. Akibatnya berulang kali mengalami kerusakan, dan sekarang petani tebu yang jadi korban. Ada sekitar 1.500 hektare tebu di sekitar GMM yang belum bisa ditebang,” tegas Sunoto saat audiensi dengan DPRD Blora, Rabu, 1 Oktober 2025.
Sunoto menambahkan, jika GMM tidak mampu memperbaiki masalah secara profesional, sebaiknya pengelolaan diserahkan kepada pihak lebih kompeten.
Baca juga: Rugikan Petani Tebu, APTRI Blora Protes Keputusan PT GMM Tutup Musim Giling
Senada, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Blora, Kusnanto, menegaskan persoalan ini serius dan harus segera dicari solusi. Ia menyebut sejak awal keberadaan GMM sudah menuai kontroversi, mulai dari proses pembebasan lahan hingga kualitas mesin pabrik.
“Mesin boiler yang dipakai GMM memang bermasalah. Kalau mesin ini sudah tua dan tidak layak, harusnya ada solusi sejak awal. Jangan sampai petani yang menanggung kerugian,” katanya.
DPRD Siap Kawal ke Tingkat Menteri
Ketua DPRD Blora, Mustopa, memastikan pihaknya akan mengawal persoalan ini hingga tingkat kementerian. Ia mendorong komunikasi intensif dengan Kementerian BUMN dan Kementerian Pertanian.
“Kalau memang harus beli boiler baru, ya harus segera diputuskan. Minggu depan kita jadwalkan bertemu wakil menteri, bahkan menteri, agar ada solusi cepat. Jangan sampai petani terus jadi korban,” kata Mustopa.
GMM Cari Solusi Darurat
Plt. Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, membenarkan gangguan teknis serius pada boiler yang telah digunakan sejak 2010. Pihaknya sudah berupaya memperbaiki, tapi usia mesin sudah terlalu tua.
“Kami mohon maaf kepada petani karena tidak bisa menyerap seluruh tebu. Sebagai langkah darurat, kami bekerja sama dengan pabrik gula di sekitar Blora untuk membantu menyerap tebu petani,” jelasnya.
GMM telah berkoordinasi dengan PG Rendeng dan PG Trangkil untuk menampung sebagian tebu dari Blora. GMM juga menyiapkan fasilitas tambahan berupa jembatan timbang dan transportasi agar petani dapat mengangkut hasil panennya ke pabrik lain.
Petani Khawatir Kualitas Tebu Turun
Meskipun ada solusi darurat, petani tetap khawatir kualitas tebu menurun jika terlalu lama tidak digiling. Salah satu petani, Winarsih, masih memiliki 10 hektare tebu yang belum ditebang, sementara ratusan hektare tebu milik petani penyangga juga masih tegak di lahan.
Kerugian diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah, dengan nilai rata-rata satu truk tebu sekitar Rp5 juta. Petani menilai penghentian giling tanpa pemberitahuan jauh-jauh hari sangat merugikan.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki











