SEMARANG, Harianmuria.com – Salah satu warga Kelurahan Plombokan, Kecamatan Semarang Utara memanfaatkan sisa makanan dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk campuran pakan ayam.
Peternak sekaligus Ketua RT 02/RW 05 Kelurahan Plombokan Joni Priyo Santoso mengatakan limbah makanan tersebut telah membantu menekan biaya pakan ternaknya.
Menurutnya penggunaan sisa makanan sebagai bagian dari campuran pakan membuat kebutuhan terhadap pakan pabrikan dapat ditekan.
“Ini sangat membantu sekali. Bisa dibilang gratis karena limbah, kemudian bisa untuk mencampur pakan pabrikan sehingga kami bisa menghemat sampai 40 sampai 50 persen. Itu nyata,” ujar Joni, Selasa, 1 September 2026.
Joni mengatakan pemanfaatan limbah MBG bukan hanya membantu mengurangi persoalan sisa makanan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi ekonomi peternak
“Peternakan ayam kampung jenis KUB milik saya yang awalnya hanya berisi sekitar 100 ekor kini berkembang menjadi sekitar 500 ekor. Setelah adanya MBG kami sangat terbantu. Kalau dulu pakai pabrikan, biaya pakan sangat tinggi. Sekarang bisa terbantu sampai 40 sampai 50 persen dari MBG,” kata Joni.
Lebih lanjut, ia mengaku memperoleh limbah itu dari salah satu dapur MBG yang tidak jauh dari tempat tinggalnya yakni SPPG Plombokan 2. Pengambilan sisa makanan biasanya dilakukan sekitar pukul 17.30 WIB.
“Dalam kondisi tertentu, saya bisa mendapatkan sekitar 25 kilogram nasi, ditambah sisa sayuran. Nasi biasanya kami simpan di freezer dua hari. Setelah itu dikeluarkan untuk dicampur dengan pur pabrikan, kemudian difermentasi,” jelasnya.
Untuk sisa sayuran, kata dia, pada malam harinya langsung diberikan kepada ayam. Selain itu, pemisahan limbah dari dapur menjadi salah satu faktor penting karena menentukan bagaimana sisa makanan tersebut dapat dimanfaatkan.
Ia mengatakan nasi yang diterima biasanya sudah terpisah dan dalam kondisi cukup bersih. Namun, sisa sayuran terkadang masih tercampur dengan benda lain seperti sendok sekali pakai maupun plastik. Karena itu, sisa sayuran tersebut harus segera dimanfaatkan dan tidak dibiarkan terlalu lama.
“Kalau nasi bersih sekali. Kalau sayur kadang campur ada sendok bekas, ada plastik. Itu makanya langsung kami kasihkan ke ayam. Kalau sampai menginap bisa basi,” ujarnya.
Menurut Joni, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan dirinya berani meningkatkan jumlah ayam yang dipelihara hingga sekitar 500 ekor.
Bagi peternak skala kecil, menurutnya biaya pakan menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar. Sehingga adanya sumber pakan alternatif dari sisa makanan MBG dinilai memberikan ruang bagi peternak untuk mempertahankan bahkan mengembangkan usaha.
Meski demikian, Joni berharap pengelolaan limbah makanan dari dapur MBG dapat semakin diperhatikan. Pemisahan antara sisa nasi, sayuran, dan benda non pangan dinilai penting agar limbah yang dimanfaatkan peternak tetap aman dan mudah diolah.
Ia juga berharap pemanfaatan sisa makanan dari program MBG dapat terus berjalan dengan pengelolaan yang lebih baik sehingga manfaatnya tidak berhenti pada penerima makanan bergizi.
“Dari sekitar 25 kilogram nasi dan sisa sayuran yang dikumpulkan secara berkala, saya mendapatkan tambahan sumber pakan sekaligus mengurangi pengeluaran usaha peternakan,” pungkasnya.
Jurnalis: Lingkar Network/Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Utia Lil











