SEMARANG, Harianmuira.com – Ratusan guru SMP di wilayah Kota Semarang turut serta dalam lomba literasi dan numerasi yang digelar Dinas Pendidikan setempat. Lokasi perlombaan berbasis City Map ini digelar di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Rabu, 14 Oktober 2026.
Alih-alih mengikuti perlombaan di dalam kelas, sebanyak 108 guru sebagai peserta dituntut berkeliling kompleks masjid untuk mengukur kolam, menghitung ukuran bedug, hingga mengamati replika Ka’bah.
Berbekal meteran, tali, tongkat, kayu, buku, dan kalkulator, para peserta menyusuri sejumlah titik yang tercantum dalam petunjuk lomba. Mereka harus menemukan objek yang dimaksud, melakukan pengukuran, kemudian menyelesaikan persoalan matematika berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Salah satu peserta, guru matematika SMP Islam Al-Madinah, Ridho Aji Wardhana (26), mengaku tertantang mengikuti perlombaan tersebut. Menurutnya, peserta harus menyelesaikan lima soal dengan objek dan tingkat kesulitan yang berbeda.
“Tadi mulai dari mengukur Ka’bah, lanjut mengukur kolam, terus mengukur lingkaran dari roda yang menaiki ke Masjid Agung. Kemudian pilar-pilarnya itu diukur peluangnya. Pusing ya, walaupun banyak kegiatan, tapi seru,” kata Ridho.
Menurut Ridho, tantangan tidak hanya terletak pada perhitungan matematika, tetapi juga pada kemampuan menemukan objek sesuai petunjuk. Teriknya cuaca Semarang turut menguras tenaga peserta saat berpindah dari satu titik ke titik lainnya.
Salah satu soal yang dinilainya sulit adalah mengukur kedalaman kolam untuk memperkirakan jumlah ikan di dalamnya. Peserta harus menentukan cara pengukuran yang tepat agar dapat memperoleh hasil perhitungan.
“Panasnya yang bikin susah. Kalau rintangannya yang paling sulit itu mengukur kolam. Pintar-pintarnya muter aja. Mengukur kedalaman kolam untuk menghitung berapa banyak ikan yang di dalamnya,” lanjutnya.
Kesulitan lain muncul ketika peserta harus menemukan taman berbentuk lingkaran. Petunjuk dalam soal hanya berupa foto pada peta digital, sehingga mereka perlu mencocokkan gambar dengan kondisi sebenarnya di kawasan MAJT.
“Kayak cari harta karun. Kalau dari map cuma foto, kita menerka sebelah mana itu sampai muter-muter,” jelasnya.
Dalam perlombaan tersebut, peserta diberi waktu dua jam untuk menyelesaikan lima soal melalui aplikasi Math City Map. Sejumlah persoalan dapat dikerjakan dengan cepat, sedangkan soal lainnya membutuhkan waktu lebih panjang karena proses pencarian lokasi dan pengukuran.
Ridho mencontohkan soal perbandingan ukuran replika Ka’bah di MAJT dengan Ka’bah di Makkah. Menurutnya, peserta kesulitan memperoleh hasil yang sesuai dengan jawaban yang ditentukan.
“Ka’bah itu kita mencari perbandingan Ka’bah di sini dan Ka’bah yang aslinya. Tapi kita tidak menemukan. Nyerempet 0 saja tetap salah. Dari 5 soal yang bisa dijawab 3. Satu lagi yang nggak terjawab yang taman di belakang, sudah ketemu tamannya tapi capek,” terangnya.
Ia berharap metode pembelajaran serupa dapat diterapkan di sekolah melalui kegiatan sederhana, termasuk saat class meeting. Dengan begitu, siswa dapat mempelajari matematika melalui permainan dan pengalaman langsung tanpa merasa terbebani.
“Yang penting siswa gembira dan tidak takut dengan matematika. Ada lomba seperti ini bagus sekali,” ucapnya.
Kepala Bidang Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kota Semarang, Miftahudin, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kompetensi literasi dan numerasi tenaga pendidik melalui pendekatan STEM Trail berbasis City Map.
Program tersebut telah dilaksanakan sejak 2024. Pada tahun pertama, kegiatan berlangsung di Semarang Zoo dengan melibatkan guru dan siswa SD serta SMP. Kemudian pada 2025, kegiatan serupa digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) dengan peserta murid SD dan SMP.
“Kami ingin menjadikan guru-guru di Kota Semarang menjadi guru-guru yang hebat, yang kompetensi literasinya bagus. Kami meyakini jika gurunya hebat, maka muridnya juga akan menjadi hebat,” lanjutnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, peserta berasal dari 12 sub rayon SMP di Kota Semarang. Masing-masing sub rayon mengirimkan tiga tim, dengan setiap tim terdiri atas tiga guru. Dengan komposisi tersebut, jumlah peserta mencapai 108 guru.
Miftahudin mengatakan, peserta harus mendatangi titik-titik yang telah ditentukan dalam soal, kemudian menyelesaikan persoalan berdasarkan objek yang ditemukan. Mereka menggunakan perangkat Android dengan aplikasi Math City Map untuk membaca petunjuk sekaligus memasukkan jawaban.
Materi yang diujikan mencakup pengukuran tinggi, perhitungan kemiringan, hingga luas bidang berbentuk lingkaran. Peserta juga dihadapkan pada persoalan kebutuhan material konstruksi serta penerapan konsep integral untuk memperkirakan luas lahan yang akan ditanami rumput.
“Mereka menghitung tempat-teman seperti tinggi, kemiringan, luas daerah berbentuk lingkaran,” ucapnya.
Melalui pendekatan tersebut, persoalan matematika tidak hanya dipelajari sebagai teori di ruang kelas. Berbagai objek di kawasan wisata dan ruang publik dapat dimanfaatkan sebagai media untuk melatih kemampuan analisis, pengukuran, dan pemecahan masalah.
“Permasalahan di dunia nyata, khususnya tempat-tempat wisata di Kota Semarang, ternyata juga bisa digunakan untuk penguatan literasi dan numerasi,” jelasnya.
Perwakilan panitia, Bavo Manon Nugroho, mengatakan pemilihan MAJT sebagai lokasi kegiatan merupakan upaya mengenalkan ikon-ikon Kota Semarang sebagai sarana pembelajaran di luar kelas.
Menurutnya, keberadaan jalur pembelajaran atau trail di kawasan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan guru untuk mengajak siswa belajar secara langsung. Setelah dipublikasikan, jalur itu juga berpeluang digunakan masyarakat umum.
“Harapannya, ketika sudah ada trail di sini, guru bisa mengajak murid-muridnya untuk belajar. Ketika sudah dipublikasikan, masyarakat umum juga bisa menggunakannya,” kata Bavo.
Panitia juga menyediakan hadiah bagi para pemenang. Juara pertama memperoleh Rp4 juta, juara kedua Rp3 juta, dan juara ketiga Rp2 juta. Sementara itu, juara harapan pertama mendapatkan Rp1 juta, harapan kedua Rp750 ribu, dan harapan ketiga Rp500 ribu.
Jurnalis: Rizky Syahrul/Lingkar Network
Editor: Utia Lil











