SEMARANG, Harianmuria.com – Warga Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, menggelar sadranan sekaligus haul Kyai Asy’ari menjelang bulan Ramadan.
Tokoh masyarakat Kelurahan Ngijo, Ahmad Yasar Mudin, mengatakan sadranan dan haul telah menjadi tradisi turun-temurun. Namun, untuk tahun ini penyelenggaraannya berbeda dari sebelumnya.
“Ini adalah kegiatan sadranan seharusnya di Rajab tapi tidak ada Kamis Wage sehingga dilaksanakan bulan Syakban sekaligus bertepatan dengan haul Kiai Asy’ari, penyiar agama di Kelurahan Ngijo,” ujarnya, Kamis, 22 Januari 2026.
Sosok Mbah Yaya Asy’ari dikenal sebagai penyiar agama yang arif dan bijak. Beliau menyiarkan ajaran Islam di wilayah Ngijo, melengkapi peran Mbah Ijo, tokoh pendegak awal padukuhan yang masih bernuansa Kejawen.
Rangkaian sadranan tahun ini dimulai pada Rabu, 21 Januari. Kegiatan dibuka dengan kerja bakti membersihkan Makam Segebuk, Makam Sentono, dan Makam Menda.
Ketiga makam tersebut merupakan makam para tokoh dan pendiri Padukuhan Ngijo, termasuk Mbah Ijo, tokoh awal berdirinya wilayah tersebut.
Selanjutnya pada Rabu malam, warga melaksanakan khotmil Qur’an dan dilanjutkan zikir bersama di petilasan Mbah Asy’ari hingga dini hari.
Tradisi ini biasanya disertai sedekah penyembelihan kambing dari warga maupun donatur dari luar daerah.
“Sadranan ini tradisi yang sudah ada sejak dulu. Rangkaian kegiatan ini berjalan ada sedekah penyembelihan kambing dari masyarakat maupun donator,” ucapnya.
Tahun ini, jumlah kambing yang disembelih lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Total ada 48 ekor kambing yang sebagian besar merupakan bentuk nazar dan sedekah. Kemudian satu ekor kambing akikah.
Setelah dimasak, daging kambing tersebut didoakan dan dibagikan kepada para peziarah, bersamaan dengan acara tahlilan, sholawatan, dan pengajian yang menjadi puncak acara.
Tradisi sadranan ini juga diselenggarakan untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan berdoa dan memohon ampunan kepada Allah, Sang Pencipta.
“Kegiatan ini untuk berdoa bersama-sama. Sekaligus menyambut bulan Ramadan, meminta ampunan atas kesalahan tahun lalu semoga Allah memberikan maghfirah, serta dalam menjalankan ibadah puasa dalam keadaan tulus dan ikhlas,” tuturnya.
Tradisi ini tidak hanya dihadiri oleh warga, guru dan murid yang berada di wilayah Ngijo turut memeriahkan tradisi tahunan ini.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Ulfa











