SEMARANG, Harianmuria.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Dinas Sosial memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat berjalan ramah anak tanpa ada kekerasan dan sesuai ketentuan.
“Konsep MPLS berlangsung sepanjang Juli. Kegiatannya bukan hanya pembelajaran, tetapi pengenalan lingkungan sekolah, pembentukan karakter, tanpa kekerasan dan tanpa perpeloncoan,” kata Kepala Dinsos Kota Semarang, Agus Junaidi, Selasa, 14 Juli 2026.
Ia mengungkap seluruh siswa Sekolah Rakyat bahkan telah masuk asrama sejak sehari sebelum MPLS dimulai pada Senin, 13 Juli 2026 untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
“Mereka sudah masuk sejak kemarin karena terlebih dahulu menjalani cek kesehatan. Alhamdulillah hasilnya baik semua,” ujarnya.
Agus menyebut kondisi siswa angkatan pertama Sekolah Rakyat tahun ini dinilai lebih siap dibanding sekolah rintisan sebelumnya.
“Secara mental, moral, maupun karakter, anak-anak yang diterima tahun ini lebih baik dibanding sekolah rintisan sebelumnya,” ungkapnya.
Meski menggunakan sistem asrama, Agus memastikan orang tua tetap diberikan keleluasaan untuk menjenguk anak setiap hari selama di luar jam pelajaran.
“Silakan datang setiap hari pada waktu istirahat atau di luar jam belajar. Sudah ada wali kelas, wali asrama, dan guru pendamping yang selalu mendampingi anak-anak,” jelasnya.
Menurutnya, keterbukaan akses bagi orang tua menjadi bagian penting agar mereka dapat memantau perkembangan putra-putrinya selama mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Orang tua bisa melihat tumbuh kembang anak setiap hari. Harapannya mereka tahu bahwa anak-anak berada dalam kondisi baik, bahkan kebiasaan, disiplin, dan moralnya akan semakin tertata,” katanya.
Ia juga meminta para wali murid tidak khawatir terhadap keamanan anak-anak di asrama karena terpantau kamera pengawas atau CCTV.
“Di sini ada CCTV, guru pendamping, wali asrama, tenaga pendidik, dan petugas keamanan. Jadi orang tua tidak perlu was-was,” tegasnya.
Adapun pola kehidupan di Sekolah Rakyat, kata dia, dirancang menyerupai pendidikan berasrama dengan aktivitas yang dimulai sejak dini hari dengan salat Subuh berjamaah. Kegiatan kemudian dilanjutkan apel pagi, sarapan bersama, olahraga, hingga mengikuti proses belajar mengajar sampai sore hari.
Sedangkan pembinaan kedisiplinan, Agus mengatakan nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Pihaknya tidak menutup kemungkinan adanya keterlibatan unsur TNI maupun Polri dalam pembinaan ini.
“Kalau untuk pembinaan disiplin nanti sifatnya tentatif. Bisa saja melibatkan TNI atau Polri karena memang lebih sesuai untuk pendidikan kedisiplinan,” ujarnya.
Agus mengungkap total terdapat 270 siswa yang diterima di Sekolah Rakyat Kota Semarang. Ratusan siswa itu, terdiri atas 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.
Sementara kuota cadangan disiapkan sebanyak sembilan siswa SD dan dua siswa SMP. Adapun jenjang SMA tidak memiliki daftar cadangan karena seluruh kuota telah penuh.
“Awalnya memang yang SD masih kurang. Setelah kami menggerakkan pendamping PKH, PSM, dan TKSK melakukan sosialisasi serta penjangkauan langsung ke masyarakat, akhirnya kuota terpenuhi,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Semarang Handi Priyanto mengatakan pembangunan fisik Sekolah Rakyat telah mencapai sekitar 99 persen dan tinggal menyelesaikan pekerjaan minor.
“Kementerian PUPR menyampaikan target tanggal 25 Juli seluruh pekerjaan sudah bersih dan selesai,” katanya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Tia










