REMBANG, Harianmuria.com – Kesenian tradisional Emprak asal Desa Kuangsan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, sukses mencuri perhatian dalam pagelaran budaya tahunan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Tidak hanya pertunjukan seni yang memikat, aneka kuliner dan produk ekonomi kreatif khas Rembang laris diserbu pengunjung.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Isti Choma Wati, menjelaskan bahwa penampilan di TMII merupakan agenda tahunan yang diikuti seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.
“Semua daerah dipersilakan menampilkan potensi terbaiknya. Tahun ini Rembang menampilkan kesenian Emprak dari Kuangsan sekaligus membawa kuliner dan produk ekonomi kreatif khas daerah,” ujarnya, Senin, 18 Mei 2026.
Menurut Isti, rombongan kesenian berangkat sejak Jumat, 16 Mei 2026 malam membawa seperangkat gamelan dan perlengkapan pertunjukan. Sementara rombongan kedua yang terdiri dari OPD, tim konsumsi, dan sebagian pemain berangkat Sabtu pagi.
Setibanya di Jakarta, tim langsung melakukan persiapan dan gladi bersih sebelum tampil pada Minggu siang. Untuk menyemarakkan suasana sejak pintu masuk TMII, penampilan diawali dengan atraksi tong-tong klek dari Kuangsan.
“Supaya tidak terkesan sepi, dari pintu masuk sudah disambut bunyi-bunyian tong-tong klek,” katanya.
Pertunjukan Emprak berlangsung sekitar 70 menit dan menampilkan perpaduan seni musik, tari, serta teater tradisional khas Rembang. Pertunjukan dibuka dengan tarian Gambyong oleh dua penari perempuan, kemudian dilanjutkan atraksi utama yang didominasi pemain laki-laki.
Tema yang diangkat menggambarkan perjuangan sebuah keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi hingga kepala keluarga harus merantau demi memperbaiki kehidupan.
“Emprak yang ditampilkan benar-benar kesenian asli dan klasik dari Kuangsan,” jelasnya.
Penampilan tersebut mendapat apresiasi positif dari dewan juri. Bahkan, menurut Isti, terdapat sejumlah gerakan khas yang tidak ditemukan pada kesenian serupa di daerah lain.
“Di Jepara juga ada Emprak, tetapi gerakan khas dari Rembang kemarin tidak ditemukan di daerah lain. Itu yang menjadi kekhasan kita,” imbuhnya.
Meski demikian, para juri juga memberikan catatan penting terkait regenerasi pelaku seni Emprak di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap kesenian tradisional.
Selain seni pertunjukan, stan Rembang juga dipadati pengunjung yang berburu kuliner khas dan produk ekonomi kreatif. Produk seperti lontong Tuyuhan, dodol, yopia, hingga rengginang teri menjadi favorit pengunjung.
“Yang paling diminati ternyata rengginang teri. Banyak pengunjung suka karena renyah, tidak keras, dan punya cita rasa khas yang tidak ditemukan di daerah lain,” kata Isti.
Tak hanya itu, berbagai produk ekonomi kreatif turut dipamerkan, di antaranya batik tulis Lasem, produk olahan pisang Mbah Gelung, serta terasi oven Allyssa yang juga menarik perhatian pengunjung TMII.
Sementara itu, Kepala Desa Kuangsan, Tarmuji, mengatakan bahwa Emprak merupakan seni tradisional yang sarat nilai budaya dan sejarah masyarakat setempat. Kesenian tersebut dibawakan kelompok seni Wahyu Suko Budoyo atas penunjukan dari Dinas Pariwisata.
Emprak menggambarkan kehidupan masyarakat zaman dahulu melalui tembang, pantun, dan drama tari yang mirip ludruk. Musik pengiringnya menggunakan kendang besar, terbang, dan gong.
Menurut Tarmuji, kesenian itu berkisah tentang seorang perantau yang datang ke Desa Kuangsan untuk bertani dan membuka lahan. Dalam prosesnya, terdapat ritual bernuansa Islami yang dipadukan dengan budaya Jawa melalui sholawat dan tembang-tembang seperti Kinanti.
“Emprak itu berasal dari istilah orang merantau yang belum punya rumah, sehingga hanya menggelar anyaman belarak untuk tempat tinggal sementara,” jelasnya.
Ia berharap tampilnya Emprak di TMII dapat menjadi momentum memperkenalkan budaya asli Rembang sekaligus menarik minat generasi muda untuk ikut melestarikan kesenian tradisional tersebut.
Jurnalis: Vicky Rio











