REMBANG, Harianmuria.com – Produksi padi di Kabupaten Rembang diproyeksikan melimpah dengan lonjakan siginifikan pada Februari 2026 dengan estimasi mencapai 46.000 ton gabah kering panen.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan panen padi pada awal 2026 menunjukkan tren positif, dan dipastikan mampu mencukupi kebutuhan masyarakat pada Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
“Pada Januari, panen sudah berlangsung di lahan seluas 1.287 hektare dengan produksi mencapai 7.577 ton gabah kering panen (GKP). Memasuki Februari, potensi panen melonjak hingga sekitar 7.900 hektare dengan estimasi produksi setara 46.000 ton GKP,” kata Agus pada Senin, 9 Februari 2026.
Menurut Agus, dengan asumsi rendemen sekitar 50 persen, potensi gabah kering diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 25.000 ton beras. Jumlah itu jauh di atas kebutuhan konsumsi masyarakat Rembang yang rata-rata hanya 5.000 ton per bulan.
“Dari potensi panen ini saja, stok beras cukup untuk sekitar lima bulan. Itu belum ditambah cadangan yang ada di Bulog maupun stok di gudang para pengusaha beras,” jelasnya.
Dengan jumlah produksi tersebut, pihaknya optimistis Rembang mampu menghadapi lonjakan kebutuhan pangan menjelang bulan suci Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri.
Adapun panen raya diprediksi mulai berlangsung merata pada awal Maret 2026. Meski demikian, panen dalam skala besar sudah dimulai sejak Februari di sejumlah wilayah seperti Kaliori, Sumber, Rembang Kota, serta beberapa kecamatan lainnya.
Selain stok pangan cukup, menurut Agus, harga jual gabah di Rembang juga cukup baik. Harga gabah kering panen di tingkat petani saat ini mencapai Rp7.100 per kilogram, berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
“Harga ini cukup baik dan sangat disyukuri petani. Namun kami berharap tetap ada keseimbangan, agar petani untung, tapi konsumen juga tidak terbebani,” ujarnya.
Agus mengakui, harga gabah biasanya cenderung turun menjelang panen raya. Karena itu, pemerintah akan berupaya menjaga harga agar tidak anjlok di bawah HPP.
Untuk harga beras di pasaran, pemerintah juga menyiapkan langkah pengendalian. Saat ini, Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium ditetapkan sekitar Rp13.400 per kilogram, sedangkan beras premium sekitar Rp15.000 per kilogram.
“Jika diperlukan, kami akan melakukan intervensi melalui operasi pasar, gerakan pangan murah, dan langkah stabilisasi lainnya,” tegasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











