REMBANG, Harianmuria.com – Di jalur Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Rembang, tak banyak yang menyadari bahwa di Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, tersimpan jejak sejarah penting perjuangan melawan penjajah. Sekitar 10 kilometer di timur pusat Kota Rembang, sebuah makam tunggal berdiri sederhana di area tambak garam, tepat di utara Sungai Kiringan. Itulah makam Mbah Galio, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Sedandang.
Nama Mbah Sedandang lekat dalam kisah perlawanan rakyat Lasem terhadap Kompeni Belanda. Ia dikenal sebagai abdi setia Raden Panji Margono dan Ki Mursodo dalam Perang Lasem pada abad ke-18.
Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem, Ernatoro, menjelaskan bahwa Mbah Galio telah berperan sebagai intelijen sejak 1725 Masehi. Perannya sangat vital dalam Perang Kuning di Lasem pada 1742 Masehi.
“Beliau itu kalau sekarang bisa disebut intel atau telik sandi. Mbah Galiyo adalah mata-mata dari Raden Panji Margono,” ungkap Ernatoro Sabtu, 14 Februari 2026.
Dalam menjalankan misinya, Mbah Galio tak mengangkat senjata secara terbuka. Wilayah operasinya meliputi Juwana, Kudus, hingga Jepara.
Ia menyamar sebagai pedagang dandhang atau alat masak tradisional untuk mengamati pergerakan pasukan Kompeni.
Sambil berkeliling menjual dagangan, ia mengumpulkan informasi strategis yang kemudian disampaikan kepada para pemimpin perlawanan.
Julukan “Sedandang” pun lahir dari strategi penyamaran tersebut. Dandhang yang dijajakannya bukan sekadar alat dagang, melainkan tameng sekaligus identitas yang menyelamatkannya dari kecurigaan musuh.
Bahkan, setelah penyerangan terhadap Kompeni di Jepara, penyamaran itu menjadi kunci keselamatannya.
Mbah Galio wafat sebagai salah satu pahlawan Lasem dan dimakamkan di tepi jalur Pantura, tepatnya di sebelah utara Sungai Kiringan, di kawasan tambak garam. Keberadaan makam di pinggir jalan raya seolah menjadi simbol bahwa ia tetap “menjaga” tanah Lasem yang dulu diperjuangkannya.
Menurut Ernatoro, keputusan dimakamkan di lokasi itu mencerminkan cita-cita sang pejuang agar selalu dikenang oleh masyarakat yang melintas di jalur utama Pantura.
“Beliau tidak hanya ingin dikenang sebagai pahlawan, tetapi juga menjadi penjaga di tepi jalan. Seolah-olah tetap mengawasi Lasem sampai sekarang,” pungkas Ernatoro.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Rosyid










