REMBANG, Harianmuria.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Desa Sambiyan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang pada Kamis, 26 Februari 2026 malam menyebabkan banjir di sejumlah titik permukiman warga. Air datang setelah dua sungai yang mengapit desa di sisi barat dan timur meluap akibat tingginya debit air.
Seorang warga, Mustofa, mengatakan hujan turun sangat lebat sejak Kamis sore. Kondisi tersebut membuat kedua sungai tak mampu menampung kiriman air.
“Kalau dua sungai itu meluap ya seperti biasanya banjir. Tapi banjir di Sambiyan enggak pernah lama. Air cepat mengalir ke utara sampai Desa Dresi Kulon,” ujarnya, Jumat, 27 Februari 2026.
Menurut Mustofa, kondisi banjir di Sambiyan kemungkinan diperparah karena sebelumnya terdapat pembendungan sementara di beberapa titik sungai untuk kebutuhan pengairan sawah. Saat itu petani tengah bersiap memasuki masa tanam padi kedua.
“Kemarin petani mau tanam padi kedua, airnya agak kurang, jadi sebagian warga menyembong sungai dan memompa air ke sawah. Nggak ngira bakal hujan selebat itu dan sembongannya belum dibuka,” imbuhnya.
Perangkat Desa Sambiyan, Suwito, membeberkan hujan dengan intensitas tinggi terjadi sekitar pukul 16.00 hingga 17.10 WIB. Sekitar pukul 18.20 WIB, atau selepas waktu berbuka puasa, air mulai masuk ke permukiman warga dengan ketinggian mencapai 50 sentimeter.
“Bagian timur dan utara yang kena banjir, tersebar di tiga RT. Lingkungan sekitar masjid lumayan parah, tapi air tidak sampai masuk masjid. Warga yang hendak salat tarawih harus hati-hati melewati genangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, air mulai surut sekitar pukul 23.30 WIB. “Banjir di sini biasanya cepat surut, nggak sampai berhari-hari,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Rembang, M. Luthfi Hakim, menyebut banjir di Sambiyan terjadi akibat meluapnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Grawan yang menerima kiriman air dari wilayah hulu di Kecamatan Sumber.
“Hujan deras sejak pukul 16.00 WIB membuat debit air meningkat signifikan. Kondisi sungai yang mengalami pendangkalan dan kapasitas tampung terbatas menyebabkan air meluap ke permukiman warga,” terangnya.
Berdasarkan data BPBD, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, sedikitnya ratusan kepala keluarga terdampak dengan ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 40 sentimeter di beberapa RT. Selain itu, sekitar 100 hektare sawah padi siap panen turut tergenang.
BPBD bersama Forkopimcam Kaliori telah melakukan asesmen, pendataan, serta mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi kenaikan debit air susulan. Hingga laporan disusun, kondisi DAS masih meluap namun cuaca telah berangsur reda.
Usai air surut, warga langsung bergotong royong membersihkan sisa lumpur dan material banjir pada Jumat, 27 Februari 2026 pagi.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan instansi terkait untuk langkah antisipatif ke depan serta mengimbau masyarakat tetap waspada,” tegas Luthfi.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa










