PATI, Harianmuria.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Pati mencatat angka kematian pada ibu hamil dan bayi mencapai 8 kasus hingga Juli 2026.
Hal itu diungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pati, Luky Pratugas Narimo, dalam acara peluncuran inovasi Tempayan Bu Harti di pendopo kabupaten, Rabu 29 Juli 2026.
Meskipun masih tergolong rendah, jika dipresentasikan dalam kurun satu tahun, Luky menyebut angka ini tergolong tinggi. Sebab jika dibandingkan pada 2025, angka kematian pada ibu hamil dan bayi mencapai 13 kasus.
Menurutnya, angka kematian ibu hamil dan bayi terus menurun dan fluktuatif sejak 2021.
“Data menunjukkan tahun 2021 terjadi kasus kematian ibu sebanyak 21, tahun 2022 turun menjadi 13 kasus. Dan di tahun 2023 meningkat 18 kasus. Kemudian pada 2024 ada 12 kasus, di 2025 terdapat 13 kasus. Dan sampai Juli ini ada 8 kasus,” kata Luky.
Ia menuturkan angka kematian terhadap ibu dan bayi dapat disebabkan beberapa hal, diantaranya kurangnya kesadaran menjaga kesehatan saat masa kehamilan, pola makan, hingga minimnya pemeriksaan kesehatan.
Untuk menekan tingginya angka kematian ini, Dinkes kemudian berinovasi dengan meluncurkan Forum Komunikasi Ibu dan Anak (KIA) yang menggandeng sejumlah stakeholder. Melalui forum ini diharapkan angka kematian ibu dan anak dapat ditekan bersama-sama.
“Sehingga menurunkan angka kematian ibu belum maksimal. Hasil evaluasi salah satu tantangan terbesar adalah belum optimalnya pemantauan terhadap ibu hamil. Ini sepenuhnya belum bisa kita pantau secara akurat, termasuk analisis resiko dan pengambilan keputusan seringkali terlambat,” tandasnya.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network
Editor: Sekar











