PATI, Harianmuria.com – Sebanyak 465 perpustakaan di Kabupaten Pati hingga kini belum mengantongi sertifikat akreditasi. Menurut Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Pati melalui Ketua Tim Pembinaan dan Monev Perpustakaan Juriah menyebut dari 550 perpustakaan di Kabupaten Pati, baru 85 perpustakaan yang sudah terakreditasi Lembaga Akreditasi Perpustakaan-Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (LAP- PNRI).
Ia merinci, 85 perpustakaan yang sudah terakreditas di Kabupaten Pati diantaranya 15 perpustakaan sudah terakreditasi secara reguler dan 70 perpustakaan sudah terakreditasi secara relaksasi.
“Data saya masuk sekitar 70 perpustakaan yang sudah ikut relaksasi. Sedangkan yang reguler ada 15 perpustakaan,” kata Juriah saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (18/7/2023).
Juriah menyampaikan, akreditasi perpustakaan dibagi menjadi dua jenis yakni akreditasi regular dan relaksasi akreditasi.
“Ada yang namanya akreditasi regular ada yang akreditasi relaksasi. Kalau yang regular ini pesertanya harus menyusun komponen atau instrumen akreditasi sesuai dengan jenis perpustakaannya. Kemudian nanti akan dinilai oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) secara langsung atau visitasi langsung atau melalui zoom online,” ujar Juriah.
Ia mengatakan, perpustakaan harus menyiapkan berbagai komponen seperti layanan, kerja sama, koleksi, pengorganisasian bahan perpustakaan, sumber daya manusia, gedung atau ruang, sarana prasarana, anggaran, manajemen perpustakaan, dan perawatan koleksi perpustakaan untuk bisa mengikuti akreditasi regular.
“Penyiapan komponennya, kemudian pemenuhan bukti fisiknya, belum lagi pembaharuan atau perlengkapan sarprasnya karena kalau ikut akreditasi tidak cuma mengisi instrumen selesai. Apalagi kalau secara visitasi langsung, tidak hanya fisik, tetapi non-fisik juga dinilai,” jelasnya.
Sedangkan, lanjut Juriah, untuk mengikuti relaksasi akreditasi maka perpustakaan harus memiliki koleksi lebih dari 1.000 seribu judul buku, koleksi telah diolah dan dilayankan kepada pemustaka sesuai kaidah penyelenggaraan perpustakaan, mengisi profil perpustakaan.
“Jenis akreditasi relaksasi cukup membuat semacam profil saja. Jadi menyusun profil kemudian dilengkapi dengan fotonya, bukti foto gedung atau ruangan perpustakaan, kemudian meja dan kursinya, pengelolanya dan foto ruang koleksi, kemudian dikirim lewat email ke Perpusnas dinilai, keluar nilai C,” imbuhnya.
Banyak Desa Belum Melek Literasi
Di sisi lain, Juriah menyebut sebagian besar perpustakaan desa di Kabupaten Pati kondisinya sangat memprihatinkan. Menurutnya, banyak perpustakaan desa yang tidak terawat dan ditutup.
“Perpustakaan di desa ini yang saya sedihkan minat untuk perpustakaannya masih kurang. Karena beberapa desa yang saya kunjungi itu terakhir kali itu Desa Pangkalan, Margoyoso. Padahal dulunya bagus sudah ada pengelolanya tapi entah ketika saya datang ke sana ruang perpustakaannya dijadikan dengan ruang tim penggerak PKK. Kemudian dulu ‘kan dapat bantuan buku juga, itu tidak terurus,” kata Juriah.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti perpustakaan desa yang fasilitasnya sudah lengkap namun tidak dimanfaatkan.
“Seharusnya buku-buku yang ada di perpustakaan itu dipinjamkan, bukan hanya dijadikan koleksi saja,” ujarnya.
Ia mengaku sudah memberikan teguran kepada pihak desa agar perpustakaan tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat maupun sekolah yang ada di sekitarnya.
“Terus ada juga perpustakaan yang tutup terus tidak pernah dibuka. Ini kemarin saya marahin kepala desanya. Saya bilang ‘Pak itu buku untuk dipinjamkan bukan untuk dikoleksi saja’. Kebetulan di depannya sekolahan, sebenarnya kalau mau kerja sama, itu bisa dibuka untuk anak-anak sekolah. Minatnya itu lho belum terbentuk, secara literasi belum terbentuk, yang sangat memprihatinkan itu perpustakaan desa,” jelasnya.
Kendati demikian, ia menyatakan masih ada perpustakaan desa yang aktivitasnya berjalan normal dan kondisinya bagus. Salah satunya adalah perpustakaan di Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati.
“Seperti Desa Raci, Kecamatan Batangan itu bagus. Ini Sukoharjo lumayan yang menggunakan ibu-ibu yang nganter anak TK. Jadi anaknya sekolah, ibunya ke perpustakaan, itu ‘kan bagus,” tuturnya. (Lingkar Network | Setyo Nugroho – Harianmuria.com)











