PATI, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati masih mengkaji usulan pembangunan baru sekolah negeri di wilayah Jaken dan Tambakromo.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati, Sunarji, mengatakan rencana pembangunan SMA negeri masih pada tahap kajian. Dinas perlu berkoordinasi lebih lanjut dengan Dinas Pendidikan Wilayah III Cabang Pati yang memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan pendidikan tingkat SMA.
“Kami dari Dinas Pendidikan akan mengkaji terlebih dahulu dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Cabang III Wilayah Pati terkait rencana pendirian SMA Negeri di Tambakromo maupun Jaken,” katanya, Rabu, 29 Juli 2026.
Sunarji mengakui terdapat sejumlah kendala yang masih harus diselesaikan terutama terkait penyediaan lahan.
Untuk wilayah Tambakromo, kata dia, lahan yang dibutuhkan hingga kini belum tersedia sehingga butuh pembahasan lebih lanjut mengenai mekanisme pengadaannya.
“Salah satu kendalanya adalah ketersediaan lahan. Untuk Tambakromo sendiri lahannya belum siap. Kalau nanti harus membeli lahan tentu ada proses yang harus ditempuh,” jelasnya.
Karena masih dalam tahap koordinasi, pemerintah belum dapat memastikan kapan pembangunan dua SMA Negeri tersebut akan direalisasikan.
“Belum bisa kami pastikan realisasinya. Kami masih berkomunikasi dan berkoordinasi karena sampai sekarang belum ada keputusan final,” imbuhnya.
Di sisi lain, Sunarji menyampaikan bahwa keberadaan SMA negeri di Jaken dan Tambakromo sangat dibutuhkan karena selama ini lulusan SMP harus mendaftar ke sekolah di kecamatan lain dengan daya tampung yang terbatas.
“Karena SMA Negeri di beberapa titik Kabupaten Pati belum ada, anak-anak ketika ingin sekolah di sekolah negeri harus ke mana-mana. Akibatnya banyak yang tidak diterima karena kuotanya terbatas,” ucapnya.
Apabila pembangunan dua SMA negeri terealisasi, menurutnya akan membuka kesempatan lebih luas bagi lulusan SMP untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus menempuh jarak yang jauh.
Ia juga menyinggung, minimnya SMA negeri menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingginya angka anak putus sekolah.
Selain persoalan ekonomi, jarak sekolah yang jauh dan terbatasnya daya tampung dinilai membuat sebagian siswa memilih tidak melanjutkan pendidikan.
“Salah satunya memang karena akses sekolah yang jauh. Ketersediaan sekolah juga bisa menjadi salah satu faktor terjadinya anak putus sekolah. Karena itu kami berharap rencana ini dapat menjadi solusi untuk pemerataan pendidikan di Kabupaten Pati,” ungkapnya.
Jurnalis: Fahtur Rohman
Editor: Ulfa











