BLORA, Harianmuria.com – Erosi aliran Sungai Nglebok memicu tanah longsor yang menyebabkan kerusakan pada 16 rumah warga di RT 04/RW 08 Kelurahan Cepu, Kecamatan Cepu, Blora, pada Minggu, 16 November 2025.
Kerusakan yang terjadi bervariasi. Data dari Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora mencatat 6 rumah rusak berat, 9 rumah rusak sedang, dan 1 rumah rusak ringan.
TRC BPBD Blora Evakuasi Warga
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Blora langsung menuju lokasi setelah menerima laporan dari warga. Mereka melakukan pendataan dan membantu proses evakuasi.
“Sudah kami data dan tim kami sudah bantu evakuasi warga terdampak,” ujar Agung Tri dari TRC BPBD Blora, Senin, 17 November 2025.
Ia menjelaskan bahwa hujan lebat beberapa hari terakhir membuat arus Sungai Nglebok makin kuat dan menggerus tebing di sekitar permukiman warga. Longsor yang terjadi kali ini merupakan kejadian susulan dari insiden sebelumnya.
Kepala Bidang Sumber Daya Alam (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Blora, membenarkan adanya dua titik longsor aktif yang tengah dipantau pihaknya bersama BPBD.
Surat mengungkapkan bahwa penggalian aliran sungai pada tahun lalu dilakukan tanpa pembangunan tembok penahan (talut) atau bronjong, sehingga memperbesar risiko longsor.
“Beberapa rumah retak bahkan ada yang ambrol temboknya karena longsor,” jelasnya.
Ajukan Bantuan Teknis ke BBWS
DPUPR kini berkoordinasi dengan BPBD, Pemerintah Kelurahan, dan tengah menyiapkan pengajuan bantuan teknis kepada BBWS Pemali Juana dan BBWS Bengawan Solo.
Surat menegaskan bahwa wilayah yang berdampak langsung terhadap aktivitas warga – seperti permukiman dan jalan lingkungan – menjadi prioritas dalam penanganan.
Meski terkendala keterbatasan anggaran, DPUPR menegaskan komitmennya untuk segera melakukan langkah mitigasi agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki











