JAKARTA, Harianmuria.com – Ratusan pelaku industri media dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul dalam Local Media Summit (LMS) 2025, yang digelar pada 7–8 Oktober di JW Marriott Hotel, Mega Kuningan, Jakarta.
Acara ini menjadi panggung penting untuk membahas tantangan dan masa depan media lokal di tengah gelombang digitalisasi dan kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI).
LMS 2025 mengusung tema “Digital Media Sustainability for a Healthy Information Ecosystem”, menampilkan lebih dari 50 pembicara nasional dan internasional dari berbagai bidang, mulai dari jurnalisme, teknologi, hingga kebijakan publik.
Fokus pada Inovasi dan Keberlanjutan Media Lokal
Dalam sambutannya, Editor-in-chief Suara.com Suwarjono menegaskan bahwa media lokal harus beradaptasi secara cepat dengan perubahan perilaku pembaca yang kini lebih banyak mengakses informasi lewat media sosial, bukan lagi dari laman web konvensional.
“Media lokal harus terus belajar dan berinovasi agar tetap relevan. Perubahan sangat cepat, dan hanya mereka yang beradaptasi yang akan bertahan,” ujarnya.
Menurut Suwarjono, tantangan ini makin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI), yang mengubah cara konsumsi informasi masyarakat. Hal ini menuntut media untuk tidak hanya bertransformasi secara digital, tetapi juga menjaga kualitas dan integritas jurnalistiknya.
Kekhawatiran terhadap AI: Misinformasi dan Bias
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan kekhawatiran mengenai penggunaan AI dalam dunia jurnalistik. Menurutnya, pemanfaatan AI yang tidak bijak berpotensi menurunkan kualitas berpikir kritis, mereduksi kreativitas, bahkan menghasilkan informasi yang bias dan menyesatkan.
“AI adalah alat, bukan pengganti. Media harus tetap mengutamakan nilai-nilai jurnalistik dalam penggunaan teknologi,” tegas Nezar.
Persoalan Hukum dan Model Bisnis
Wakil Ketua Komisi Hukum Dewan Pers, Abdul Manan, menambahkan bahwa selain isu teknologi, media lokal juga dihadapkan pada persoalan klasik yang belum tuntas: keberimbangan berita, verifikasi informasi, dan persoalan hukum.
Ia mengungkapkan, Dewan Pers mencatat lebih dari 100 kasus hukum yang melibatkan media. Selain itu, banyak media kecil masih menghadapi masalah mendasar seperti keberimbangan dan verifikasi informasi.
“Tantangan utama media lokal untuk keberlanjutan adalah ketergantungan dana. Kita perlu menemukan model bisnis baru yang tidak hanya bergantung pada teknologi luar, tetapi juga memperkuat jurnalisme berkualitas,” ujar Manan.
LMS Jadi Ajang Kolaborasi dan Aksi Nyata
Local Media Summit 2025 bukan sekadar forum diskusi, melainkan momen penting untuk mendorong transformasi nyata media lokal. Dari tantangan digitalisasi, tekanan bisnis, hingga perubahan pola konsumsi informasi, LMS menjadi ruang strategis untuk menyatukan kekuatan berbagai pihak dalam membangun ekosistem media yang sehat, inovatif, dan berkelanjutan.
Sumber: Lingkar Network
Editor: Basuki










