JAKARTA, Harianmuria.com – Pemerintah RI terus mendorong percepatan transisi energi dan transformasi ekonomi hijau menuju target net zero emission tahun 2060 atau lebih cepat, melalui pembentukan Satuan Tugas Transisi Energi dan Ekonomi Hijau (Satgas TEH) yang diresmikan pada 17 Maret 2025 oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Satgas ini dibentuk berdasarkan Keputusan Menko Perekonomian No. 141/2025 dan berfokus pada empat area strategis: energi hijau, industri hijau, investasi hijau, dan pengembangan sumber daya manusia. Sejumlah pelaku industri konstruksi lokal menyambut kebijakan ini dengan mulai menerapkan praktik konstruksi berkelanjutan di berbagai proyek.
Kontraktor Lokal Adaptasi Teknologi Hijau
Salah satu kontraktor yang proaktif merespons inisiatif ini adalah PT Adijaya Teknindo, perusahaan berbasis di Kalimantan Timur yang telah beroperasi selama sembilan tahun di sektor pertambangan. Perusahaan ini mulai mengadopsi teknologi dan standar konstruksi hijau dalam proyek-proyek komersial dan infrastruktur perkotaan.
“Sektor tambang selama ini sudah terbiasa dengan standar lingkungan yang ketat. Pengalaman tersebut kami terapkan dalam pembangunan yang lebih berkelanjutan,” ujar Adi Wijaya, Komisaris PT Adijaya Teknindo, Rabu, 23 Juli 2025 di Jakarta.
Praktik Konstruksi Berkelanjutan
PT Adijaya Teknindo telah menerapkan sistem manajemen lingkungan berstandar ISO 14001, termasuk penggunaan material ramah lingkungan, efisiensi energi melalui pencahayaan hemat listrik, dan teknologi konservasi air di proyek-proyek tambang. Kini, pendekatan ini mulai diadopsi dalam proyek-proyek non-tambang sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional.
“Kami ingin mentransfer keahlian dari lingkungan ekstrem tambang ke konstruksi kota yang lebih kompleks,” tambah Adi.
Pemberdayaan Ekonomi Hijau
Perusahaan ini juga menerapkan strategi konten lokal dengan 80 persen pengadaan berasal dari supplier lokal Kalimantan Timur. Selain itu, mereka memberikan pelatihan bagi tenaga kerja setempat sebagai bagian dari transfer teknologi.
“Ekonomi hijau harus inklusif. Supplier lokal, tenaga kerja lokal, dan pelatihan harus menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan,” tegas Adi.
Keunggulan Geografis dan Ketahanan Iklim
Lokasi PT Adijaya Teknindo di Kalimantan Timur memberikan keuntungan dalam memahami tantangan geografis dan iklim ekstrem seperti hujan deras dan banjir. Hal ini memperkuat kapabilitas perusahaan dalam menerapkan desain konstruksi tahan iklim, yang kini menjadi kebutuhan mendesak di tengah krisis iklim global.
“Kami membangun infrastruktur yang tahan terhadap cuaca ekstrem, karena iklim yang tidak menentu sudah menjadi tantangan nyata,” jelas Adi.
Ekspansi dan Rencana Jangka Menengah
Dalam 3–5 tahun ke depan, PT Adijaya Teknindo menargetkan ekspansi ke sektor konstruksi perkotaan dengan mengajukan sertifikasi Green Building Council Indonesia (GBCI) untuk proyek-proyek baru dan menjalin kerja sama strategis dengan vendor energi terbarukan.
“Kami ingin berkontribusi dalam transformasi industri konstruksi nasional yang lebih ramah lingkungan,” kata Adi.
Kontribusi Terhadap Target Net Zero 2060
Transformasi di sektor konstruksi menjadi sangat penting mengingat bangunan menyumbang sekitar 23 persen konsumsi energi nasional, dan angka ini diperkirakan naik menjadi 40 persen pada 2030. Upaya seperti yang dilakukan kontraktor lokal menjadi bagian penting dalam mendukung target Indonesia mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.
“Target kami adalah mendukung transisi energi Indonesia secara konkret menuju net zero 2060 melalui penerapan konstruksi berkelanjutan,” kata Airlangga Hartarto saat mengumumkan pembentukan Satgas TEH.
Sumber: Adijaya Teknindo
Editor: Basuki








