KUDUS, Harianmuria.com – Tradisi munjung wong tuwo di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus menyita perhatian publik. Warga tampak berbondong-bondong membawa tenong berisi makanan tradisional
Kegiatan tersebut bagian dari perayaan hari jadi ke-171 tahun Desa Wates dan sedekah bumi. Rangkaian kegiatan Sepekan Gelar Budaya berlangsung pada 11 hingga 17 Mei 2026.
Bagi masyarakat Desa Wates, tradisi munjung wong tuwo menjadi wujud syukur sekaligus upaya melestarikan warisan budaya yang telah hidup turun-temurun selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Dalam prosesi tersebut, generasi muda menyerahkan tenong dan jajanan tradisional kepada para sesepuh desa. Sebagai balasan, para orang tua memberikan seikat padi sebagai simbol doa, keberkahan, dan harapan bagi generasi penerus.
Kepala Desa Wates, Abdullah Asofii, mengatakan tradisi munjung wong tuwo memiliki makna mendalam bagi masyarakat yang mayoritas bekerja di sektor pertanian.
“Ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada orang tua. Kami berharap masyarakat selalu mendapatkan doa dan keberkahan,” ujarnya, Kamis, 14 Mei 2026.
Abdullah menjelaskan bahwa penggunaan padi dalam prosesi tersebut memiliki filosofi kuat karena Desa Wates dikenal memiliki hamparan sawah yang luas. Kehidupan masyarakat pun sangat lekat dengan dunia pertanian.
“Padi menjadi simbol kehidupan masyarakat kami. Ini juga sebagai pengingat kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya dan pertanian desa,” jelasnya.
Menurut Abdullah, tradisi munjung wong tuwo rutin digelar setiap bulan Apit dalam penanggalan Jawa dan telah berlangsung jauh sebelum dirinya lahir. Tradisi itu terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas masyarakat Desa Wates.
Jika dahulu prosesi dilaksanakan di area makam leluhur desa, kini kegiatan dipusatkan di Taman Padang Bulan agar lebih terbuka dan dapat disaksikan masyarakat luas.
Sementara itu, Ketua Panitia Pagelaran Kirab Wates, Mohammad Zuhri, menambahkan bahwa rangkaian Sepekan Gelar Budaya tahun ini diisi berbagai kegiatan mulai khataman Al-Qur’an, sholawat, kirab budaya, pentas barongan, reog hingga pertunjukan teater rakyat.
“Tema tahun ini tetap sedekah bumi dan gelar budaya dalam rangka Hari Jadi Desa Wates ke-171. Intinya bagaimana budaya ini tetap hidup dan dikenal generasi muda,” katanya.
Kirab budaya diikuti sekitar 30 kelompok yang terdiri dari pemerintah desa, kelompok tani, BUMDes, koperasi desa, RT, RW hingga organisasi masyarakat.
Menurutnya, perayaan budaya bukan sekadar hiburan tahunan, melainkan ruang mempererat persaudaraan, menjaga identitas desa, sekaligus mewariskan nilai penghormatan kepada leluhur dan budaya Jawa kepada generasi berikutnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











