KENDAL, Harianmuria.com – Alih-alih memakai uang rupiah, warga di Desa Purwosari, Kecamatan Patebon, menggunakan gabah sebagai alat pembayaran untuk melakukan transaksi jual beli di Pasar Gili.
Aktivitas itu menjadi bagian dari pesta panen raya padi dalam Tradisi Ngloning atau Irup di desa setempat. Masyarakat yang hendak membeli barang maupun jajanan UMKM di Pasar Gili menggunakan gabah saat membayar.
Ketua panitia yang juga Sekretaris Desa Purwosari, Any Ismafarida, mengatakan penggunaan gabah sebagai alat transaksi menjadi salah satu keunikan dalam pesta panen tersebut.
“Yang unik dalam kegiatan pesta panen ini, kita menggunakan gabah sebagai alat pembayaran ketika membeli apa pun di UMKM yang ada di Pasar Gili,” ujarnya, Minggu, 27 September 2026.
Ia menjelaskan, gabah yang digunakan sebagai alat pembayaran telah dikemas dalam beberapa pecahan, mulai dari Rp2 ribu hingga Rp10 ribu. Pengunjung kemudian dapat menukarkan atau menggunakan gabah tersebut untuk membeli berbagai produk yang dijajakan pelaku UMKM.
“Kalau di desa kita istilahnya Ngloning atau Irup. Jadi mata uangnya bukan rupiah, tetapi gabah yang sudah kita packing dari Rp2 ribu sampai Rp10 ribu,” jelasnya.
Menurut Any, penggunaan gabah tersebut sengaja dilakukan sebagai simbol hasil pertanian warga, konsep tersebut juga menjadi cara untuk mengenalkan kembali tradisi lama kepada generasi sekarang.
“Kenapa pakai gabah, karena kita dalam rangka pesta panen padi,” katanya.
Selain bazar UMKM dengan transaksi menggunakan gabah, pesta panen juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, seperti lomba memancing, gogoh ikan, lomba layang-layang, kitiran, mewarnai hingga karaoke.
Any mengatakan, pesta panen tersebut telah digelar untuk kelima kalinya dan menjadi agenda rutin setiap tahun. Antusiasme masyarakat maupun pelaku UMKM juga terus meningkat.
“Awalnya pedagang yang ikut sekitar 30-an, sekarang sudah lebih dari 60 pedagang. Kalau untuk Pasar Gili sendiri setiap minggu memang ada,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Purwosari, Akhmad Nur Wakhid, mengatakan pesta panen digelar sebagai bentuk nguri-uri budaya lokal yang ada di Desa Purwosari.
Menurutnya, kegiatan tersebut biasanya digelar setiap akhir musim panen, khususnya sekitar September. Tradisi Ngloning pada zaman dahulu menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Purwosari.
“Zaman dulu itu ada istilah Ngloning. Orang dari luar desa datang ke Desa Purwosari untuk menukar gabah dengan bahan pokok, sayuran, kue tradisional, rempah-rempah dan lainnya,” jelasnya.
Ia menyebut melalui pesta panen tersebut, tradisi yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kembali diperkenalkan dalam bentuk yang lebih menarik dan melibatkan pelaku UMKM lokal.
Selain menjaga keberlangsungan budaya, kegiatan tersebut juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM di Desa Purwosari.
“Harapannya kegiatan ini bisa meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM di Purwosari,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Utia Lil










