KENDAL, Harianmuria.com – Bupati Dyah Kartika Permanasari menyiapkan tiga program strategis untuk lingkungan pendidikan di Kabupaten Kendal. Ketiga program ini disosialisasikan kepada para kepala sekolah dan tenaga pendidik di Aula Kecamatan Kendal, Rabu, 14 Oktober 2026.
Tiga program itu yakni Satu Rekening Satu Pelajar, ASN Peduli Pekerja Rentan, dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM)..
Menurut Bupati Tika, sapaan akrabnya, program Satu Rekening Satu Pelajar menjadi langkah strategis untuk menumbuhkan budaya menabung sekaligus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan peserta didik.
“Kebiasaan menabung perlu ditanamkan sejak dini agar anak-anak terbiasa hidup disiplin, merencanakan kebutuhan, dan mempersiapkan masa depan,” ujarnya.
Ia meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pihak sekolah, lembaga perbankan, serta seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi dalam menyukseskan program tersebut.
Edukasi keuangan juga perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pelajar mampu memanfaatkan layanan keuangan secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Selain itu, Bupati Tika mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN), baik di lingkungan pendidikan maupun lainnya, berpartisipasi dalam gerakan ASN Peduli Pekerja Rentan dengan membantu pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan pekerja rentan.
Sasaran program ini meliputi petani, nelayan, pedagang kecil, asisten rumah tangga, marbot masjid, tukang ojek, serta kelompok pekerja rentan lainnya yang membutuhkan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
“Gerakan ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas ASN untuk membantu pekerja rentan memperoleh perlindungan dari risiko kecelakaan kerja maupun risiko sosial ekonomi,” jelasnya.
Program tersebut juga sejalan dengan Permata (Perlindungan Masyarakat Pekerja Rentan) yang terus didorong Pemerintah Kabupaten Kendal untuk memperluas perlindungan sosial bagi masyarakat.
Disisi lain, Bupati Tika juga meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan meningkatkan koordinasi dan kolaborasi dalam memperbaiki kualitas perpustakaan sekolah.
Ia juga berpesan kepada para kepala sekolah agar memberikan perhatian dan dukungan kepada pengelola perpustakaan serta mendorong kegiatan membaca yang menarik dan berkelanjutan bagi peserta didik.
“Perpustakaan hendaknya tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi juga menjadi ruang belajar yang nyaman, menyenangkan, dan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu serta kecintaan anak terhadap ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Yanuar Fatoni, menyampaikan bahwa cakupan kepesertaan program ASN Peduli Pekerja Rentan di lingkungan satuan pendidikan masih tergolong rendah.
Menurutnya, jumlah peserta yang terjangkau belum mencapai 50 orang dari sekitar 5.000 orang yang menjadi sasaran di lingkungan tersebut.
“Mungkin karena sosialisasinya belum sampai ke tingkat bawah. Makanya, ini kita gencarkan sosialisasi,” ungkapnya.
Ia berharap melalui sosialisasi yang lebih luas, semakin banyak ASN di lingkungan pendidikan yang memahami program tersebut dan ikut berpartisipasi memberikan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan kepada pekerja rentan.
Sementara terkait perpustakaan di sekolah, menurutnya ada sejumlah tantangan yang masih dihadapi, mulai dari keterbatasan sarana dan prasarana perpustakaan, koleksi buku, tenaga pengelola, hingga rendahnya kunjungan siswa dan belum optimalnya kegiatan penguatan budaya baca.
“Kalau perpustakaan saat ini ada beberapa kendala, misalnya lahan yang tidak ada, ruang dan tenaga pustakawannya belum ada. Kami berupaya akan mengusulkan melalui program revitalisasi dari Dikdasmen,” jelasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Utia Lil










