KENDAL, Harianmuria.com – Ketua Karang Taruna Kabupaten Kendal, Nattaya Kenenza, mendorong pelestarian kesenian tari kuda lumping melalui gelaran Karang Taruna Festival (Karta Fest) Kuda Lumping 1 yang menjadi wadah generasi muda untuk menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Festival yang digelar di Lapangan Desa Karangmulyo, Kecamatan Pegandon, Sabtu, 4 Juli 2026, itu diikuti 10 grup kuda lumping dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kendal. Ribuan warga tampak antusias menyaksikan pertunjukan yang diiringi dentuman gamelan dan atraksi para penari.
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari.
Ketua Karang Taruna Kabupaten Kendal, Nattaya Kenenza, mengatakan Karta Fest merupakan bentuk komitmen organisasi kepemudaan tersebut dalam melestarikan budaya lokal sekaligus memberi ruang bagi pelaku seni tradisional untuk berkembang.
“Hari ini tampil 10 grup dari 10 kecamatan. Kemudian pada 1 Agustus 2026 nanti akan digelar lagi festival di wilayah atas, tepatnya di Kecamatan Sukorejo, dengan diikuti 10 grup lainnya. Dari masing-masing lokasi akan dipilih tiga grup terbaik,” katanya.
Ia menambahkan, para pemenang dari dua rangkaian festival tersebut akan kembali ditampilkan pada puncak Bulan Bakti Karang Taruna yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026 di Stadion Utama Kebondalem.
“Nantinya para pemenang akan kami tampilkan pada rangkaian Bulan Bakti Karang Taruna. Harapannya, mereka bisa menjadi contoh sekaligus motivasi bagi kelompok seni lainnya,” ujarnya.
Nattaya berharap Karta Fest dapat memperkuat kecintaan generasi muda terhadap kesenian tradisional, khususnya kuda lumping, agar tetap lestari dan tidak tergerus modernisasi.
“Semoga kesenian kuda lumping terus hidup, berkembang, dan tidak punah karena diwariskan kepada generasi berikutnya. Selain kuda lumping di Karta Fest ini juga ada bazar UMKM untuk menggeliatkan ekonomi di desa ini,” harapnya.
Sementara itu, Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, mengapresiasi inisiatif Karang Taruna Kabupaten Kendal yang berkolaborasi dengan Dinas Sosial dalam menggelar festival tersebut.
Menurutnya, Karta Fest tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga sarana pelestarian budaya yang menjadi tanggung jawab bersama.
“Ini merupakan prestasi luar biasa dari anak-anak muda Karang Taruna. Mereka mampu menghadirkan ruang bagi para pelaku seni tradisional untuk terus berkarya sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal,” ungkapnya.
Ia menegaskan, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan budaya modern, kepedulian generasi muda terhadap kesenian tradisional perlu terus didukung.
Ia berharap festival tersebut mampu memperkenalkan kembali kuda lumping kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.
“Dengan adanya Festival Kuda Lumping ini, para pelaku seni memiliki wadah untuk berekspresi. Semoga kesenian tradisional kuda lumping tetap dikenal, dicintai, dan terus dilestarikan secara turun-temurun,” tutupnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Rosyid











