GROBOGAN, Harianmuria.com – Masyarakat Desa Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan masih melestarikan tradisi Asrah Batin yang digelar dua tahun sekali pada tahun genap.
Salah satu hal unik yang membuat warga rela berdesakan yakni saat perebutan bedak dan air tape. Warga dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa, antusias memasuki kerumunan demi memperoleh bedak dan air tape yang menjadi bagian dari tradisi turun-temurun tersebut.
Menurut tradisi setempat, bedak dan air tape diyakini membawa berkah, membuat awet muda, serta menangkal berbagai penyakit.
Farida dan Liawati, warga Desa Karanglangu, mengaku sengaja datang mengikuti prosesi perebutan bedak dan air tape tradisi Asrah Batin. Meski harus berdesakan dengan ribuan orang, keduanya mengaku menikmati suasana yang penuh kebersamaan.
“Seru dan asyik sekali ikut berebut bersama warga lain. Kami meyakini kalau bedak ini bisa bikin awet muda, sedangkan air tapenya bisa menyembuhkan atau menghilangkan penyakit,” ujar Farida dan Liawati.
Kepala Desa Karanglangu, Agus Slamet, mengatakan Asrah Batin merupakan tradisi warisan leluhur yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Tradisi ini melibatkan dua desa bertetangga, yakni Desa Karanglangu dan Desa Ngombak, sebagai simbol persaudaraan yang terus dijaga hingga kini.
Menurut Agus, tradisi tersebut berangkat dari kisah dua saudara kandung bernama Raden Kedono dan Raden Kedini yang terpisah sejak kecil.
“Ketika beranjak dewasa, keduanya tidak sengaja bertemu dan saling jatuh cinta hingga berniat melangsungkan pernikahan. Namun, pernikahan tersebut gagal total setelah mereka mengetahui bahwa mereka adalah saudara kandung yang terpisah lama,” jelasnya.
Prosesi Asrah Batin diawali dengan rombongan warga Desa Karanglangu yang merepresentasikan Raden Kedono. Dipimpin kepala desa, ribuan warga berjalan menuju Sungai Tuntang untuk menyeberang menggunakan perahu tradisional.
Di seberang sungai, rombongan disambut warga Desa Ngombak bersama kepala desa yang merepresentasikan Raden Kedini. Pertemuan kedua rombongan berlangsung khidmat sekaligus meriah sebagai simbol pertemuan kembali dua saudara yang lama terpisah.
Setelah prosesi penyambutan dan ritual adat selesai, masyarakat kemudian berebut bedak dan air tape yang telah disiapkan. Masyarakat meyakini kedua benda tersebut membawa keberkahan, kesehatan, serta menjadi simbol harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Agus menegaskan, tradisi Asrah Batin bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antara warga dua desa yang selama ini meyakini berasal dari satu garis keturunan.
“Tradisi ini terus kami lestarikan sebagai warisan budaya sekaligus pengingat bahwa warga Karanglangu dan Ngombak adalah saudara. Nilai persaudaraan itulah yang kami jaga dari generasi ke generasi,” katanya.
Kepercayaan tersebut juga melahirkan aturan adat yang masih dihormati hingga sekarang. Masyarakat meyakini warga Desa Karanglangu dan Desa Ngombak masih memiliki hubungan darah, sehingga hingga kini tidak ada warga dari kedua desa yang saling menikah.
Menurutnya, komitmen menjaga adat itu menjadi bagian penting dari kelestarian tradisi Asrah Batin yang terus diwariskan sebagai simbol persaudaraan, kerukunan, dan identitas budaya masyarakat Kedungjati.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











