GROBOGAN, Harianmuria.com – Uji laboratorium sampel makanan makan bergizi gratis (MBG) yang diduga menjadi sumber penyebab keracunan siswa hingga santri di Kecamatan Gubuh, Kabupaten Grobogan masih dalam penelitian.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, dr. Djatmiko, mengatakan butuh waktu hingga sepuluh hari untuk meneliti sampel makanan MBG.
“Hasil uji laboratorium masih kami tunggu. Masih perlu waktu tujuh hingga 10 hari,” ujarnya, Senin, 12 Januari 2026.
Perkembangan kasus dugaan keracunan MBG yang didistribusikan SPPG Kuwaron pada Jumat, 9 Januari 2026 tersebut menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya jumlah korban mencapai ratusan.
Korban berasal dari sejumlah sekolah dan satuan pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMK yang berlokasi di Desa Ngroto, Penadaran, Glapan, dan Trisari.
Dugaan Keracunan MBG di Gubug Grobogan, BGN Evaluasi SPPG Kuwaron
Data sementara dari Dinkes Grobogan total 750 orang dilaporkan terdampak usai mengonsumsi MBG. Sementara 162 orang di antaranya harus menjalani penanganan medis.
Djatmiko mengatakan dari jumlah tersebut, 113 orang harus menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit dan puskesmas, 49 orang lainnya menjalani rawat jalan serta observasi oleh tenaga kesehatan.
“Sebagian besar pasien datang dengan keluhan mual, muntah, pusing, dan diare. Saat ini seluruh pasien sudah mendapatkan penanganan medis sesuai standar,” terangnya.
Berdasarkan rekapitulasi Dinkes, pasien rawat inap tersebar di berbagai fasilitas layanan kesehatan. Sebanyak 47 orang dirawat di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo, 29 orang di RSUD R. Soedjati Purwodadi.
Kemudian sisanya dirawat di Puskesmas Karangrayung 1, Puskesmas Kedungjati, Puskesmas Gubug 1, Puskesmas Toroh 1, Puskesmas Klambu, Puskesmas Grobogan, Puskesmas Godong 1, serta satu pasien di RS Permata Bunda. Total keseluruhan pasien rawat inap tercatat 113 orang.
Ia memastikan mayoritas pasien saat ini mulai membaik, meski masih dalam pemantauan intensif tenaga kesehatan, terutama pada pasien anak-anak.
“Tidak ada laporan pasien dengan kondisi kritis. Namun kami tetap melakukan observasi ketat untuk memastikan pemulihan berjalan optimal,” jelasnya.
Hingga Minggu, 11 Januari 2026 pagi, Dinkes Grobogan mencatat 79 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
“Data ini bersifat dinamis. Ada pasien yang sudah dipulangkan karena kondisinya membaik, namun juga ada potensi penambahan. Data akan kami perbarui setiap 12 jam,” ujarnya.
Selain penanganan medis, Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan bersama lintas sektor telah melakukan penyelidikan epidemiologi untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Tim kesehatan telah mengambil sampel makanan MBG, air, serta melakukan pemeriksaan terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Grobogan memastikan penanganan korban menjadi prioritas utama. Pemerintah dan Badan Gizi Nasional (BGN) juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah terdampak.
Penyesuaian distribusi MBG juga dilakukan sambil menunggu hasil investigasi lanjutan guna mencegah kejadian serupa terulang.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











