GROBOGAN, Harianmuria.com – Angka putus sekolah di Kabupaten Grobogan pada 2026 tercatat 10.831. Jumlah tersebut turun mengalami penurunan dari 13.663 siswa pada 2024 lalu 11.778 pada 2025.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Grobogan, Sutomo, mengatakan capaian tersebut tidak lepas dari berbagai upaya untuk meminimalkan anak tidak sekolah.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni mendorong berdirinya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk menjaring anak-anak putus sekolah agar tetap memperoleh layanan pendidikan.
“Mendorong berdirinya PKBM untuk menjaring ATS,” ujar Sutomo dalam keterangan yang diterima pada Senin, 30 Maret 2026.
Disdik Grobogan juga melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah agar tidak mudah mengeluarkan siswa yang menghadapi persoalan kedisiplinan atau faktor lainnya.
“Sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk tidak mudah mengeluarkan siswa,” ucapnya.
Selain itu, Disdik juga pernah bekerja sama dengan UNICEF dalam program penanganan anak putus sekolah. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan layanan pendidikan bagi anak-anak yang rentan tidak melanjutkan sekolah.
“Bekerjasama dengan UNICEF,” ujarnya.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah menunjukkan adanya penurunan tingkat partisipasi sekolah pada kelompok usia 16–18 tahun dalam dua tahun terakhir.
Pada 2023, angka partisipasi sekolah untuk usia tersebut tercatat 56,22 persen, turun dibanding 2022 yang mencapai 57,92 persen.
Untuk kelompok usia lain, tingkat partisipasi masih berada pada level tinggi. Pada 2023, angka partisipasi usia 7–12 tahun mencapai 99,64 persen dan usia 13–15 tahun sebesar 94,29 persen. Sementara pada 2022, partisipasi usia 7–12 tahun berada di angka 99,90 persen dan usia 13–15 tahun sebesar 94,87 persen.
Dinas Pendidikan Grobogan berharap melalui perluasan PKBM, sosialisasi berkelanjutan, dan kolaborasi lintas lembaga, angka putus sekolah dapat terus ditekan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak di Grobogan, terutama pada jenjang pendidikan menengah yang masih menunjukkan tantangan partisipasi.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











