BLORA, Harianmuria.com – Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tutup di bawah yayasan Pelita Gizi Makmur, di Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora diberhentikan sementara.
Penutupan SPPG menyusul dugaan insiden keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami belasan siswa SDN 1 Tutup pada Kamis, 1 September 2026.
Koordinator Wilayah SPPG Blora, Artika Diannita, mengatakan pihaknya telah mendatangi sekolah setelah menerima laporan kejadian dugaan keracunan MBG. Dugaan tersebut bermula adanya keluhan siswa berupa mual, pusing hingga muntah.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan dari pihak Puskesmas Tunjungan, ada sekitar 13 siswa yang mengalami gejala mual, pusing, dan muntah. Para siswa sudah diperiksa dan diperbolehkan pulang,” ungkap Artika.
Laporan kejadian telah disampaikan kepada pimpinan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang. Laporan tersebut memuat kronologi keluhan, jumlah siswa terdampak, asal SPPG, hingga menu makanan yang disajikan.
Terkait penghentian operasional, Artika menyebut keputusan akhir berada di tangan pimpinan pusat. Namun, untuk sementara, SPPG Tutup dipastikan tidak beroperasi pada Jumat, 2 September 2026.
“Kalau ada kejadian seperti ini, biasanya kami laporkan ke pimpinan. Untuk kemungkinan tutup sementara, keputusan tetap ada pada pimpinan pusat. Besok tidak beroperasi,” jelasnya.
Dugaan Keracunan MBG Terjadi Lagi di Tunjungan Blora, Belasan Siswa Sakit Perut hingga Muntah
Sementara itu, penyebab pasti keluhan yang dialami para siswa masih dalam penyelidikan. Sampel makanan telah dibawa ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) untuk diperiksa lebih lanjut.
Adapun menu MBG yang disajikan hari ini berupa telur ceplok berbumbu rempah. Pihaknya belum dapat memastikan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan telur, bumbu, atau faktor lainnya.
Ia juga mengaku telah mendengar informasi mengenai telur yang berbau sebagaimana disampaikan pihak sekolah. Namun, dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan sampel.
“Iya, kalau tadi sempat ada pernyataan telurnya bau itu telur. Jadi menunya kan telur ceplok dibumbuin, disiram bumbu rempah. Nah, rempahnya itu kita masih belum tahu, rempahnya itu mungkin rempah-rempah yang ada ebi-nya ya,” terangnya.
Ia menyebut belum mengetahui apabila ada siswa yang mungkin memiliki alergi pada bahan tertentu.
“Mungkin dari sebagian anak mungkin ada yang alergi atau apa, kan kita belum tahu juga. Jadi masih diselidiki,” tambah Artika.
Menurutnya, koordinator wilayah bersama koordinator kecamatan akan meningkatkan koordinasi dan melakukan inspeksi mendadak (sidak), terutama pada jam-jam krusial.
“Kalau kita perketat koordinasi. Juga dari Korwil dan juga Korcam juga melakukan sidak juga di jam-jam krusial. Seperti di jam 03.00 pagi dan juga di sore hari saat penerimaan bahan baku,” ucapnya.
Sebagai informasi, SDN 1 Tutup melaporkan sebanyak 13 siswa mengalami keluhan kesehatan berupa mual, pusing hingga muntah, pasca menyantap MBG. Belasan siswa tersebut berasal dari kelas 1 hingga kelas 4.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, mendatangi SDN 1 Tutup untuk proses penyelidikan. Pihaknya mengamankan sisa muntahan siswa yang ada di depan kelas. Sementara muntahan lainnya, terjadi di toilet sekolah sehingga langsung disiram.
“Masih dalam proses penyelidikan,” kata Zaenul. Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











