KUDUS, Harianmuria.com – Keluhan warga terkait serbuan lalat di sekitar peternakan ayam Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo ditindaklanjuti. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus membentuk Tim Bina Lingkungan sebagai upaya menekan populasi lalat yang menyerang permukiman hingga lingkungan sekolah.
“Jadi kemarin ada keluhan masyarakat, termasuk adik-adik kita yang bersekolah di lingkungan sekitar kandang. Terkait adanya banyaknya lalat yang tidak normal, lalatnya banyak banget,” kata Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurut Belinda, terdapat sekitar 21 kandang ayam di wilayah Bulungcangkring. Persoalan tersebut sebelumnya telah beberapa kali dibahas melalui mediasi yang melibatkan pemerintah desa, kecamatan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), masyarakat, hingga pengelola kandang, namun belum menemui titik temu.
Oleh karena itu, Belinda meminta agar Pemerintah Desa Bulungcangkring segera membentuk Tim Bina Lingkungan. Tim tersebut nantinya melibatkan unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan pemilik kandang.
“Tim Bina Lingkungan itu ada perwakilan dari desa, tokoh masyarakat, sama pemilik kandang. Tetap nanti dari kecamatan dan dinas terkait juga memonitor dan mengawasi,” jelasnya.
Pembentukan tim diberi tenggat maksimal satu minggu. Setelah terbentuk, penyemprotan di masing-masing kandang dan lingkungan sekitar ditargetkan mulai dilakukan pada pekan berikutnya.
Ia berharap langkah tersebut tidak berhenti pada kegiatan penyemprotan semata. Dirinya memastikan akan melakukan evaluasi untuk melihat efektivitas penanganan dan perkembangan populasi lalat di kawasan tersebut.
“Harapan saya lalat ini bisa berkurang. Program ini bisa efektif. Nanti kalau memang belum efektif, kita bikin langkah lain lagi,” bebernya.
Belinda juga menyatakan Pemkab Kudus tidak ragu untuk mengambil langkah lebih tegas apabila pembinaan dan pengawasan tidak mampu menyelesaikan persoalan tersebut.
“Kalau memang masyarakat minta untuk ditutup, ya kita tutup. Kita rekomendasikan untuk ditutup,” tegasnya.
Namun, kata dia, sebelum mengambil keputusan tersebut, pemerintah akan melihat kondisi masing-masing kandang serta kepatuhan pengelola terhadap ketentuan yang berlaku.
Belinda menyebut regulasi terkait budidaya ayam broiler, khususnya peternakan skala kecil, menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menentukan langkah selanjutnya.
Sementara itu, perwakilan pengelola kandang dari PT AnthonyJaya Perkasa (AJP), Heri Hermawan, mengaku memahami keluhan warga terkait meningkatnya populasi lalat.
Ia mengatakan pengelola kandang telah menjalankan sejumlah langkah sanitasi dan biosekuriti.
“Antisipasi kita tetap biosekuriti. Di farm kita sebenarnya sudah berjalan, pagi dan sore kita semprot. Untuk sanitasi lingkungan juga sudah berjalan,” kata Heri.
Menurut Heri, pengelola juga telah membantu penyemprotan di lingkungan warga dan sekolah. Selain itu, lem lalat dibagikan sebagai salah satu upaya pengendalian.
“Kalau musim panen pasti banyak, karena siklus panen ayam kita di sini tidak bisa bareng, tidak bisa serentak. Jadi bisa berpindah-pindah dari ujung sampai ujung,” terangnya.
Ia mengaku satu siklus pemeliharaan ayam broiler berlangsung sekitar satu setengah bulan hingga memasuki masa panen. Pada saat panen dan pengerukan kotoran, kondisi tersebut dapat memicu munculnya lalat.
Selain aktivitas peternakan, Heri menyebut faktor lingkungan dan perubahan musim juga dapat memengaruhi perkembangan lalat.
“Kalau menghilangkan saya rasa di dunia peternakan susah. Kalau sampai steril saya rasa tetap ada lalat. Mungkin harapannya lebih kepada mengurangi,” tandasnya.
Jurnalis: Lingkar Network/Fahtur Rohman
Editor: Sekar











