BLORA, Harianmuria.com – Kenaikan harga kebutuhan pangan di pasar tradisional berdampak pada pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk menyiasati hal itu, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bogowanti, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, menggandeng pelaku UMKM lokal.
Mitra dapur SPPG Bogowanti, Dwi Sumining, mengatakan pihaknya memilih bahan dari pengrajin sekitar untuk memenuhi kebutuhan dapur. Mulai dari cabai, bawang merah, hingga tahu dan tempe.
Menurutnya, produk dari warga lokal dinilai lebih segar dan harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan di pasaran yang saat ini masih tinggi.
“Kami ambil dari warga sekitar, lebih fresh dan bisa menekan biaya,” ujar Dwi, Rabu, 15 April 2026.
Dwi mengungkapkan kenaikan harga tak hanya terjadi pada bahan pangan. Bahan pendukung seperti plastic juga melonjak. Selain itu, harga kedelai yang masih tinggi turut berdampak pada produksi tahu dan tempe.
Kondisi tersebut membuat pihak dapur ikut membantu pengrajin agar tidak terlalu terbebani.
“Dalam satu minggu, dapur dapat membeli tahu dan tempe sebanyak dua kali, menyesuaikan dengan menu yang disajikan kepada penerima manfaat MBG,” katanya.
Meski dihadapkan pada kenaikan harga, Dwi memastikan kualitas gizi makanan tetap dijaga. Hal ini penting untuk mendukung pertumbuhan dan kecerdasan anak.
Di sisi lain, jumlah penerima manfaat MBG di wilayah tersebut juga mengalami peningkatan. Jika sebelumnya hanya sekitar 1.400 penerima, kini bertambah menjadi 2.500 penerima manfaat setelah adanya pemerataan program.
“Kami tetap upayakan kebutuhan gizi anak terpenuhi meski ada kenaikan harga,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











