PADANG, Harianmuria.com — Komoditas jengkol asal Sumatera Barat menunjukkan potensi besar untuk menguasai pasar dunia.
Meski selama ini dipandang sebagai kuliner lokal biasa, peluang pasar ekspor jengkol Sumbar kini terbukti menjanjikan usai berhasil menembus negara dengan persyaratan ketat, salah satunya Jepang.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat, RM Ende Dezeanto, menegaskan bahwa peluang ekspor komoditas ini harus terus dioptimalkan.
Menurutnya, pemahaman pelaku usaha terkait standar karantina menjadi kunci utama keberhasilan ekspor jengkol Sumbar bisa tembus pasar luar negeri.
"Skalanya memang masih kecil, tetapi ini perlu dibanggakan karena sudah bisa masuk ke pasar global, termasuk Jepang yang memiliki persyaratan khusus," ujar Ende dalam Webseries Go Ekspor Barantin #6 bertajuk "Jengkol Sumatera Barat dari Perkebunan Rakyat Menuju Pasar Global", Rabu (19/8/2026).
Prospek jengkol di pasar internasional terlihat dari catatan pengiriman secara berkala. Pada 2024, Balai Karantina menerbitkan 25 sertifikat ekspor jengkol dengan volume pengiriman 4.045,92 kilogram dan nilai komoditas mencapai Rp323,67 juta.
Potensi pengiriman berlanjut pada 2025 dengan terbitnya sembilan sertifikat ekspor senilai Rp282,72 juta untuk volume 3.534 kilogram. Sementara hingga Agustus 2026, tercatat empat sertifikat telah diterbitkan dengan volume 767 kilogram bernilai Rp61,63 juta.
Menurut Ende, data tersebut menunjukkan bahwa jengkol memiliki peluang untuk terus dikembangkan sebagai komoditas ekspor. Namun, pelaku usaha perlu mempersiapkan produk dan memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan negara tujuan.
Guna menggarap peluang pasar yang ada, Barantin mengoperasikan Klinik Ekspor untuk memberikan pendampingan khusus bagi para pelaku usaha kecil yang ingin naik kelas.
"Pelaku UMKM yang ingin melakukan ekspor ke negara atau pasar global bisa mendapatkan pendampingan melalui Klinik Ekspor," kata Ende.
Masyarakat dan pelaku UMKM dapat mengakses layanan karantina ini di berbagai titik, seperti Kepulauan Mentawai, Bandara Internasional Minangkabau, hingga Pelabuhan Bungus, Teluk Bayur, Muaro, dan Kantor Pos.
Lebih lanjut, untuk memastikan jengkol dapat diterima pasar global, proses pengiriman diawali dengan pendaftaran akun via PPK atau SSM-QC di kantor layanan karantina, lalu dilanjutkan pengajuan melalui aplikasi Best Trust.
"Di dalam aplikasi ini, semua permohonan ekspor, impor maupun domestik antararea masuk. Pelaku usaha juga bisa mendapatkan informasi mengenai persyaratan ekspor," ujarnya.
Petugas karantina akan menverifikasi dokumen, melakukan pemeriksaan fisik, serta uji sampel laboratorium bila diperlukan untuk menjamin komoditas bebas dari hama dan penyakit tumbuhan. Setelah dinyatakan sehat dan memenuhi standar negara tujuan, sertifikat fitosanitari terbit sebagai dokumen sah ekspor.
Selain jengkol, Sumatera Barat menyimpan potensi ekspor pada komoditas lain seperti madu, ikan tuna sirip kuning beku, ikan hias laut, ikan garing beku, benih ikan garing, kayu manis, cangkang sawit, kulit lempengan, hingga bungkil sawit.
"Komoditas unggulan kita tidak hanya jengkol. Ada juga madu, produk perikanan, kayu manis, cangkang sawit, kulit lempengan, dan bungkil sawit," ujar Ende.
Dengan pendampingan berkelanjutan dari persiapan hingga sertifikasi, Barantin optimistis semakin banyak komoditas perkebunan rakyat Sumbar yang siap bersaing secara global.
Editor: Asih











