• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Minggu, Oktober 18, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

Dikenal Sebagai Tokoh Penyebar Agama Islam di Jepara, Siapa Sajakah Mereka?

Sekar Sari by Sekar Sari
2 September 2022
in Artikel
211 7
MENERANGKAN: Gerbang pintu masuk masjid Mantingan, Jepara. (Istimewa/Harianmuria.com)

MENERANGKAN: Gerbang pintu masuk masjid Mantingan, Jepara. (Istimewa/Harianmuria.com)

1.7k
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

Harianmuria.com – Jepara merupakan salah satu kota yang mempunyai peran penting dalam penyebaran Islam di pulau Jawa. Terdapat beberapa tokoh agama yang dikeramatkan bahkan dianggap waliyullah karena dikenal sebagai penyebar ajaran Islam oleh masyarakat Jepara. Tentunya para tokoh tersebut memiliki ciri khas tersendiri dalam proses pendekatan dakwahnya. Siapa saja kah mereka? Simak ulasan berikut ini.

Sultan Hadlirin

Sultan Hadlirin memiliki nama asli Sayyid Abdurrahman Ar Rumi. Lahir di kota Aceh. Ia memiliki beberapa sebutan  yang diperoleh semasa hidupnya yaitu Sunan Hadirin bermakna ulama pendatang (gelar keagaman). Sebutan itu ia peroleh ketika  menyebarkan agama Islam di Jepara. Sultan Hadlirin diperoleh ketika  menjadi sultan pertama di Jepara. Ada juga sebutan lainnya yakni Pangeran Kalinyamat (gelar tokoh masyarakat) karena ia merupakan  pendiri Kota Kalinyamat.

Namun, terdapat sebuah pendapat yang menyebutkan bahwa nama asli Sultan Hadliri adalah Pangeran Toyib, putera dari Sultan Mughayat Syah seorang raja Kesultanan Aceh pada tahun 1514-1528 Masehi.

Sultan Hadlirin memutuskan pergi  ke tanah Jawa untuk menyebarkan Islam sekaligus menghindari pertumpahan darah akibat perebutan kekuasaan dengan saudaranya Raden Takyim. Sebelumnya Sultan Hadlirin berkelana keberbagai tempat, ke Makkah bahkan ke Champa hingga berakhir di bandar Jepara dan menikah dengan Ratu Kalinyamat.

Sultan Hadlirin merupakan sosok pemimpin dan ulama yang mencapai puncak kejayaan saat memimpin Kesultanan Kalinyamat. Ia memiliki wilayah kekuasaan yang luas meliputi wilayah  Jepara, Pati, Rembang, Juwana, Alas Mentaok (Mataram), hingga Pulau Bawean.

Dalam menyebarkan ajaran Islam, ia menggunakan pendekatan akulturasi budaya. Hal ini dapat dilihat dari Masjid Wali yang berada di desa Loram Kulon, Kabupaten Kudus. Tidak hanya itu, Sultan Hadlirin juga melakukan pendekatan budaya seperti ampyang maulid, kepelan, nganten mubeng gapuro karena dirasa metode penyebaran tersebut lebih mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat dan masih dilestarikan higga saat ini.

Sultan Hadlirinn wafat pada tahun 1549 dan dimakamakan  di Komplek masjid Mantingan di Desa Mantingan, Kec. Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Pada 1559, Ratu Kalinyamat membangun sebuah masjid di bukit Pamantingan, satu kompleks dengan makam suaminya. Masjid tersebut kemudian menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jepara yang saat ini dikenal dengan Masjid Astana Sultan Hadlirin.

Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat sebenarnya mempunyai nama asli yaitu Retna Kencana dan merupakan  putri dari  Sultan Trenggono, seorang raja Demak yang memimpin pada tahun 1521-1546 Masehi.

Pada masa Ratu Kalinyamat, kerajaan Kalinyamat mempunyai andil besar dalam penyebaran dan pengembangan agama Islam di Jawa terutama daerah Jepara. Pada masa ini, ia mendirikan masjid Mantingan pada tahun 1559 Masehi.

Masyarakat Jepara memanfaatkan masjid tersebut sebagai tempat beribadah sekaligus lembaga pendidikan keagamaan dan pengajaran Islam. Tidak heran jika pada waktu itu, sebuah masjid sangat penting kedudukannya dalam sebuah kerajaan yang bernuansa Islam.

Di Masjid Mantingan ini, Ratu Kalinyamat dan para wali mengajarkan kepada masyarakat yang baru memeluk Islam untuk mempelajari dan mendalami ajarannya, menjalankan ibadah shalat dan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.

Masjid  Mantingan ini mengandung unsur- unsur budaya bernuansa Islam dan budaya tradisional Hindu-Budha yang konon berasal dari  petunjuk Sunan Kalijaga kepada Ratu  Kalinyamat. Corak bangunan dan ukiran yang terdapat di masjid, memperlihatkan kesinambungan tradisi pra Islam dengan tujuan lain untuk menarik perhatian masyarakat yang belum masuk Islam,  sehingga mereka senang mengunjungi masjid ini.

Ratu Kalinyamat juga membentuk Komunitas Islam Santri, lantaran masyarakat Jepara tergolong taat dan patuh  menjalakan ajaran Islam, tekun melaksanakan ibadah, dan rajin mengikuti acara pengajian yang dilaksanakan di masjid Mantingan. Komunitas tersebut  merupakan gambaran sejarah, pola tatanan kota muslim yang membentuk perkampungannya sendiri.

Ratu Kalimanyat meninggal dunia sekitar tahun 1579 M dan dimakamkan di dekat makam suaminya yaitu Sultan Kalinyamat di desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.

Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar memiliki nama asli Raden Abdul Jalil atau juga dikenal dengan nama  Sunan Jepara, Sitibrit, Syekh Lemah abang, dan Syekh Lemah Abang. Ada yang menyebutkan jika ia lahir di Persia pada tahun 1426 M atau 1346 H dan memiliki nama kecil Abdul Hasan bin Abdul Ibrahim bin Ismail.

Syekh Siti Jenar belajar berbagai ilmu di Baghdad dan Irak dalam waktu cukup lama sehingga ia dapat menguasai berbagai ilmu agama Islam. Ketika di Baghdad, ia lebih tertarik untuk mendalami ilmu Tasawuf sampai berguru pada Syekh Ahmad Baghdadi yang menganut aliran tarekat Akmaliyah. Namun ia juga mempelajari tarekat Syathariyah dari sepupunya sekaligus guru rohaninya.

Kemudian setelah dari Baghdad, ia merantau pergi ke Malaka untuk mengajarkan ilmu yang ia dapat kepada masyarakat di sana. Disitulah ia mendapatkan sebuah gelar Syekh Datuk Abdul Jalil dan Syekh Jabarantas.

Tak lama kemudian ia memutuskan untuk menyebarkan Islam dengan pergi ke pulai Jawa menuju Giri Amparan Jati, dan tinggal dengan sepupunya Syekh Datuk Kahfi. Di daerah inilah ia mendapatkan banyak murid yang berasal dari berbagai golongan bangsawan dan masyarakat umum. Lalu, ia mendirikan sebuah pondok pesantren untuk belajar di Dukuh Lemah Abang, Cirebon dan mendapatkan sebutan Syekh Lemah Abang.

Syekh Siti Jenar berguru kepada Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati, lalu ia mengenal konsep Manunggaling Kawula Gusti. Syekh Siti Jenar kemudian berdakwah ke Jepara dan mendirikan sebuah pondok pesantren.

Syekh Siti Jenar meninggal 1517 Masehi di Demak. Masyarakat Jepara meyakini makam Syekh Siti Jenar berada di masjid Mantingan yang masih berdekatan dengan makam Sultan Hadlirin dan Ratu  Kalinyamat di Desa Mantingan, Kec. Tahunan, Kabupaten Jepara.

Sunan Nyamplungan

Sunan Nyamplungan memiliki nama asli Syekh Amir Hasan, merupakan putra dari Sunan Muria. Gelar Sunan Nyamplungan diperolehnya karena di tempat Syeh Amir Hasan terdapat pohon nyamplungan, sehingga warga Karimun Jawa menyebut Syeh Amir Hasan dengan nama Sunan Nyamplungan.

Sunan Nyamplungan mendapatkan tugas dari pamannya Sunan Kudus untuk berdakwah di Karimun Jawa. Metode dakwah yang digunakannya yaitu  damai dan konsisten, sehingga pada abad 15 dan 16  penduduk Karimun Jawa berbondong-bondong dan tertarik untuk masuk Islam. Saat itu wilayah Karimun Jawa memiliki enam suku yaitu suku Bugis, Jawa, Madura, Buton, Bajo, Madan, Mandar.

Dalam memimpin Karimunjaya, Sunan Nyamplungan sangat bijaksana kepada kebijakan yang dibuatnya. Sehingga segala konflik yang muncul antar suku di Karimun Jawa dapat diminimalisir. Salah satu cara yang dilakukannya dalam mempersatukan keenam suku dengan jalan dakwah bil hikmah.

Selain itu, Sunan Nyamplungan merupakan seorang penganut mursyid thoriqoh. Ia pun selalu menggunakan piranti lokal saat berdakwah, misalnya kayu, seperti kayu Stigi, Dewandaru dan Kalimasada yang memiliki filosofi mendalam. Saat ini berbagai jenis kayu tersebut digunakan warga setempat untuk membuat perabotan rumah tangga.

Sunan Nyamplungan wafat di Karimun Jawa Kabupaten Jepara, Jawa Tengah dan dimakamkan di sana.

Itulah beberapa tokoh-tokoh yang mempunyai peran penting dalam menyebarkan agama Islam di Jepara. Segala hambatan yang mereka hadapi  dalam berdakwah dapat dijadikan sebuah pembelajaran.

Selain dari keempat nama-nama di atas, masih ada banyak lagi tokoh-tokoh yang turut berjasa dalam penyebaran agama Islam di kota ukir. Bahkan hingga kini, makam dan peninggalan mereka masih dijaga serta diziarahi masyarakat. (Kontributor Uin – Harianmuria.com)

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: Info JeparaInfo MuriajeparaRatu KalinyamatSultan HadlirinSunan NyamplunganSyekh Siti JenarTokoh Penyebar Agama Islam di Jepara
SummarizeShare120SendShare
Previous Post

Bumi Perkemahan Regaloh Pati Terbengkalai, Kini Lahannya Kian Menyempit

Next Post

Satpol PP Jepara Sita 3.400 Botol Penjual Miras di Kalinyamat

Sekar Sari

Sekar Sari

Berita Terkait

Jepara Berstatus Awas Kekeringan Meteorologis, 11 Desa Dilanda Krisis Air Bersih

Jepara Berstatus Awas Kekeringan Meteorologis, 11 Desa Dilanda Krisis Air Bersih

by ulfa puspa
16 Oktober 2026
533

JEPARA, Harianmuria.com – Krisis air bersih di Kabupaten Jepara meluas di tengah status awas kekeringan meteorologis. Tercatat 16 desa di berbagai kecamatan kesulitan mendapatkan air bersih. Kepala Bidang...

1 Pekerja Tewas saat Kebakaran Gudang Pabrik Mebel di Jepara, Pasokan Air Jadi Kendala Pemadaman

1 Pekerja Tewas saat Kebakaran Gudang Pabrik Mebel di Jepara, Pasokan Air Jadi Kendala Pemadaman

by Sekar Sari
14 Oktober 2026
544

JEPARA, Harianmuria.com - Kebakaran hebat yang melanda gudang mebel CV ALLPIN di Karangkebagusan, Kecamatan Jepara, menewaskan seorang pekerja dan menyebabkan dua pekerja lainnya mengalami luka bakar serius. Hingga...

Perluas Skrining TBC, Pemkab Jepara Targetkan Temukan 3.000 Kasus Baru

Perluas Skrining TBC, Pemkab Jepara Targetkan Temukan 3.000 Kasus Baru

by ulfa puspa
13 Oktober 2026
521

JEPARA, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten Jepara menggencarkan penemuan kasus tuberculosis (TBC) dengan memperluas cakupan skrining. Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program pemberantasan TBC....

Tim MBLB Jepara Temukan Bukaan Tambang Ilegal di Desa Pancur Meluas

Tim MBLB Jepara Temukan Bukaan Tambang Ilegal di Desa Pancur Meluas

by ulfa puspa
13 Oktober 2026
534

JEPARA, Harianmuria.com – Dua titik tambang di Desa Pancur, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara tak memiliki izin alias ilegal. Berdasarkan inspeksi Pemerintah Kabupaten Jepara, pada Selasa, 13 Oktober 2026,...

Load More

BERITA UTAMA

Mulai 2027 Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas, DPRD Blora Sebut Perlu Diikuti Persiapan Matang

Mulai 2027 Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas, DPRD Blora Sebut Perlu Diikuti Persiapan Matang

17 Oktober 2026
552
Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

16 Oktober 2026
637
Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

15 Oktober 2026
535
RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

14 Oktober 2026
533

TRENDING HARI INI

  • Kawasan Sungai Kendal Padat Bangunan Rumah hingga Warung Bikin Normalisasi Terhambat

    Kawasan Sungai Kendal Padat Bangunan Rumah hingga Warung Bikin Normalisasi Terhambat

    179 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

    115 shares
    Share 46 Tweet 29
  • Proyek Embung Kaliombo Rembang Capai 77 Persen, Ditarget Selesai Akhir 2026

    105 shares
    Share 42 Tweet 26
  • Mulai 2027 Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas, DPRD Blora Sebut Perlu Diikuti Persiapan Matang

    99 shares
    Share 40 Tweet 25
  • Dulu Tempuh 200 M untuk Dapat Air Bersih, Warga Kalikunal Kendal Kini Dibuatkan Sumur Bor

    97 shares
    Share 39 Tweet 24
  • ORADO Goes to Campus 2026 Dorong Penjaringan Atlet Domino di Perguruan Tinggi Gresik

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
  • Dua Kali Mangkir Pemeriksaan, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Terancam Dijemput Paksa KPK

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

Program PMT Anak Stunting di Rembang Bakal Dialihkan ke SPPG

Program PMT Anak Stunting di Rembang Bakal Dialihkan ke SPPG

3 Maret 2026
583
Siapa Peduli Saat Pers Lokal Sekarat?

Siapa Peduli Saat Pers Lokal Sekarat?

9 Juni 2025
627

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya